Share this:

Syahalam, Malaysia

Tak terasa gak hanya sarapan..makan siang..makan malam terlewati,mohon di maafkan ya sobat JUARA, sampai akhirnya saya bisa melanjutkan cerita tentang Pak Ci Eri dan Kak Ana, suami istri pemilik resto Pecal Lele Padang Jawa di Syahalam-Malaysia yang tiap hari menghabiskan 3000 porsi.

Setelah berhasil mendapatkan legalitas restoran di tempat usahanya, dari yang sebelumnya usaha biasa biasa saja. Terdengarlah berita yang kurang menggembirakan tentang Indonesia, Thailand, Srilanka dan negara terdampak lainnya…. berita di siang bolong memggemparkan di tahun 2004, *TSUNAMI ACEH*.

Gempa bumi Samudra Hindia 2004 terjadi pada pukul 08:58:53 UTC tanggal 26 Desember 2004, episentrumnya terletak di lepas pantai barat Sumatera, Indonesia. Guncangan gempa tersebut berskala 9,1–9,3 dalam skala kekuatan Moment dan IX (Violent) dalam skala intensitas Mercalli.

Gempa bumi megathrust bawah laut terjadi ketika Lempeng Hindia didorong ke bawah oleh Lempeng Burma dan memicu serangkaian tsunami mematikan di sepanjang pesisir daratan yang berbatasan dengan Samudra Hindia. Gelombang tsunami yang tingginya mencapai 30 meter (100 ft) menewaskan 230.000–280.000 jiwa di 14 negara dan menenggelamkan sejumlah permukiman pesisir.

Gempa dan tsunami ini merupakan salah satu bencana alam paling mematikan sepanjang sejarah. Indonesia adalah negara yang dampaknya paling parah selain Sri Lanka, India, dan Thailand.
Menteri Kesehatan Indonesia, memperkirakan jumlah korban tewas sebanyak 220.000 jiwa di Indonesia, sehingga totalnya di seluruh dunia mencapai 280.000 jiwa.

Perserikatan Bangsa-Bangsa memperkirakan operasi pemulihannya akan menjadi yang termahal sepanjang sejarah umat manusia. Sekretaris Jenderal PBB Kofi Annan menyatakan bahwa rekonstruksi membutuhkan lima sampai sepuluh tahun.

Muncul kekhawatiran besar bahwa jenazah korban dapat meningkatkan penyebaran penyakit dan kelaparan. Setelah ditanggapi secara cepat, dampaknya berhasil diminimalkan. Pada hari-hari pasca tsunami, upaya besar-besaran dikerahkan untuk mengubur cepat-cepat jasad korban demi mencegah penyebaran penyakit.

Nah…berita yang terus menerus mengenai penanganan Tsunami Aceh juga diberitakan di media massa malaysia. Mendatangkan simpati dari warga Malaysia, yang juga banyak mengumpulkan sumbangan kemanusiaan buat negara terdampak.

Selain masalah kemanusiaan ternyata tsunami aceh juga merubah kebiasaan masyarakat Malaysia dalam makan sehari-hari. Yang sebelumnya memilih favorit ikan ikan laut, sejak tsunami aceh masyarakat juga mulai mencari alternatif lain yaitu ikan air tawar dan tentu saja salah satu pilihanya adalah *Ikan Lele*. Perubahan kebiasaan masyarakat ini tentu saja membawa berkah buat Pecal Lele Padang Jawa yang dikelola oleh beliau berdua. Sejak kejadian bencana tersebut, restoran beliau semakin ramai sampai sekarang ini. Mulai lah bisa exspansi dari 1 kios terus mengalami perluasan sampai sekarang. Hitungan kasar saya hampir sekitar 1500m untuk lahan restorannya. Akhirnya kesabaran beliau dalam berikhtiar mendapatkan rejekinya sampai sekarang ini.

Analisa bebas saya, mungkin masyarakat Malaysia merasa bahwa laut tercemari dengan dampak tsunami, baik itu sampah, maupun korban korban yang terbawa tsunami dan itu menimbulkan perubahan perilaku konsument memandang ikan laut dan melirik ikan lele. Begitulah cara Allah memudahkan hambanya dalam berikhtiar dan memberikan rejekinya buat mereka mereka yang selalu meyakini bahwa rejeki tidak pernah salah alamat.

Demikian juga dengan kami di ayam GEPREK JUARA, kami terus konsisten dengan semangat Berjamaah, Pemberdayaan, Bagi Hasil dilandasi semangat Nasionalisme, semoga ini akan menjadi perjalanan hidup untuk menjadi semulia mulianya manusia yang bermanfaat buat orang lain.

Salam JUARA

Share this: