Share this:

Diceritakan Kembali Panglima JUARA

Syahalam, Malaysia

Malam ini saya bertemu dan mendengarkan kisah dengan seorang pengusaha kuliner di Syahalam Malaysia bersama teman teman sesama pengusaha kuliner dalam sebuah komunitas.

Suami istri ini kelahiran Indonesia tapi sudah menjadi warganegara Malaysia. Biasa dipanggil dengan Pak Ci Eri dan Bu Ana, mereka pemilik rumah makan Pecal Lele Padang Jawa yang berdiri di sebuah lokasi yang bukan premium tetapi bisa menjual 3 ribuan porsi dalam sehari dengan salah satu diferensiasinya buka 22jam. Hanya tutup jam 04.00 sd 06.00.

Kali ini saya tidak akan bercerita tentang rumah makannya tetapi saya akan menceritakan tentang pengalaman hidupnya yang beliau ceritakan kepada kami, membuat saya semakin mengerti makna dari sebuah perjuangan, ketekunan, berani beda dan paling penting adalah sebagai seorang entrepreneur tidak takut akan banyaknya kesulitan bahkan bisa menciptakan peluang usaha yang menghasilkan keuntungan dalam kesulitan yang dihadapinya.

Pak Ci kelahiran 1963 di Bukittinggi-Sumatera Barat, istrinya Bu Ana kelahiran Demak-Jawa Tengah. Pak Ci datang ke malaysia sebagai imigran di usia beliau yang masih sangat muda belia 16tahun. Sebagai seorang imigran yang hanya bermodalkan tekad dan niat ingin merubah nasib, tentunya tidak mudah menjalani kehidupan di negeri orang, penuh perjuangan pengorbanan. Tetapi beliau terus bersemangat dan percaya, bahwa di balik kesulitan selalu ada kemudahan.

Sampai akhirnya ditahun 1998 setelah usianya menginjak 35 tahun dan sudah hampir 19 tahun menjadi seorang pegawai. Mulailah beliau memutuskan untuk menjadi seorang entrepreneur dengan membuka Warung/Kedai dengan menu yang sederhana yang istrinya bisa memasaknya yaitu Pecal Lele (Lele Goreng di balur tepung tipis, disajikan dengan Nasi putih ngambil sepuas, sambel khas Bu Anna dan pilihan 2 kuah ngambil sepuasnya bisa kuah bening bisa kuah kuning) dan harga yang cukup murah karena mereka mendirikan rumah makannya bukan dilokasi premium, tetapi di sebuah jalan kelas 3 dengan menyewa kios dari 1 sampai sekarang sudah berdiri di hamparan seluas 1500m an. Lokasi rumah makan sekaligus rumah tinggalnya.

Pada awal awal mendirikan rumah makan kendala yang di hadapi adalah Legalitas, Malaysia dikenal dengan negara yang mengontrol ketat peraturan tentang rumah makan. Kalau mendapatkan ijin Restoran maka harus memenuhi syarat ABCD yang tidak mudah untuk dipenuhi. Tetapi kalau Kedai/Warung persyaratannya agak longgar. Nah sejak awal rumah makan yang beliau dirikan di wajibkan memiliki ijin restoran oleh petugas. Tetapi beliau ingin tetap kedai, sampai bertahun tahun hal ini terjadi. Padahal petugas satpol PP nya sering makan di rumah makan Pak Eri. Sampai akhirnya suatu saat Pak Eri nyerah dan menerima stempel restoran dengan kewajiban memperbaiki semua fasilitas rumah makannya. Harapannya agar rumah makannya bisa berkembang.
Kenapa begitu? Karena dia merasa koq jualan pecal lele ini susah banget untuk ramai, bisa sih jualan..cukup sih cukup..tapi beliau ingin terus tumbuh. Dan legalitas mungkin bisa menjadi salah satu cara untuk bisa bertumbuh dalam benaknya.Sama seperti roadmap ayam GEPREK JUARA di 2019, fokus kepada LEGALITAS.

Terus apa hubungannya judul saya Tsunami Aceh Datangkan Rejeki dengan Pak Eri….apa hubungannya Tsunami dengan Pecal Lele..apa hubungannya?
Saya mau sarapan dulu ya…nanti disambung lagi…

Salam JUARA

Share this: