Share this:

*CALON PENGELOLA LOKAL AREA PADANG – SUMATERA BARAT*

Progress : OJD di Jakarta

*Restu Orang Tua Menjadi Semangat Sukses*

Padang, 3 Juli 2018
Kepada Yth.
Panglima JUARA
Bpk. Agung Prasetyo Utomo (APU)
Di Tempat

Assalamuallaikum warrohmatullahi wabarokatuh
Alhamdulillah saya ucapkan terima kasih atas kesempatan yang diberikan kepada saya untuk mengirimkan CV ini. Saya Hari Rahmat (ary), anak ke lima dari enam bersaudara dua laki laki dan empat permpuan. Lahir di kota Bukittinggi dari keluarga pedagang Rumah Makan, Ayah saya bapak (Edrizal) dan ibu (Ermawati) tercinta.

Beliau yang mengajarkan saya hidup mandiri dan harus berjuang semenjak saya kecil. Dari kecil kami sudah di ajarkan perjuangan, sehingga apapun yang kami inginkan harus di capai dengan cara berusaha sendiri terlebih dahulu. Dari SMP saya sudah tertarik bedagang karena banyak kebutuhan, mulai dari barang- barang kebutuhan sekolah hingga mainan, maka dari situ awalnya saya belajar cari uang sendiri, sekalian belajar kuliner bersama kakak saya (menjual kerupuk dan perkedel kentang).

Keinginan untuk belajar kuliner itu lebih besar lagi ketika saya sudah bisa menolong ayah berdagang setelah pulang sekolah semasa SMA, tertarik dengan keramaian pelenggan.
Sampai saya putuskan setelah tamat SMA saya akan berdagang, ternyata tidak di izinkan oleh kedua orang tua. Dari pada nganggur akhirnya memutuskan untuk kuliah di salah satu universitas swasta di kota Padang.

Merantau ke Padang adalah pertama kali saya jauh dari keluarga dan saya semakin
terpacu untuk memikirkan kehidupan saya sendiri. Akhirnya semester pertama, tanpa sepengetahuan orang tua diam-diam saya mulai membagi uang belanja saya untuk modali usaha kecil-kecilan, mulai dari berjualan jilbab, minyak tanah (minyak lampu ke rumah makan) asesoris dan membuat kuliner dengan model kekinian.

Dengan memanfaatkan
youtube saya belajar sendiri bikin berbagai macam makanan dan cemilan. Semester ke tiga
saya mulai fokus bikin makanan ringan menjajal ke kampus, dan mencoba bikin snek box.

Sebagai Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya dan Satra membuat saya tidak punya
waktu luang yang banyak, hafalan dan tugas kuliah adalah makanan sehari-hari kami.
Sehingga untuk snek box saya bisa mengerjakanya di waktu libur saja, Alhamdulillah walaupun penghasilan sedikit tapi bisa ringankan beban orang tua.

Dengan harapan yang lebih besar saya mulai mengumpulkan uang dan berfikir untuk buka toko atau Rumah makan seperti orang tua saya. Semester enam di tahun 2012 akhirnya keinginan saya tercapai. saya buka rumah makan sendiri dengan modal pas-pasan dan minta sedikit bantuan orang tua. Itulah kali pertama kedua orang tua saya tau kalau keinginan saya untuk berwira usaha itu sangat besar. Akhirnya saya di izinkan dengan syarat cari kerjaanjuga di kantor. Karena, alasan mereka yang tidak mau anak nya kuliah tinggi tapi tetap jadi pedagang. Alhasil setelah tamat kuliah (wisuda) saya di suruh cari kerja.

Tahun 2013 pertama kali saya bekerja kantoran sampai 2016, mulai dari perusahaan asuransi, hotel dan perbankan. Saya melepas impian untuk berwirausaha, ketika bekerja
semua yang saya rasakan itu sama. Di hati saya hanya ingin berwirausaha. Akhirnya tahun
2016 dengan tekad yang kuat saya lepaskan embel-embel karyawan kantoran dan minta ridho kedua orang tua untuk kembali berwirausaha dan hal itu membuat mereka merasa sangat sedih dan menyesal sudah biayai kuliah saya.

Tanpa ridho dari orang tua membuat usaha saya ternyata tidak berjalan mulus seperti
yang saya bayangkan, berbagai cara dan inovasi kuliner sudah di pelajari dan di jajalkan tapi
tak kunjung membuat saya berhasil meyakinkan beliau. Kali ke empat saya sewa toko dan
kaki lima selalu di gusur oleh yang punya kontrakan sehingga tak ada lagi modal dan habis –
habisan.

Pada tahun 2017 saya berpikir untuk kembali mencoba catering lagi hingga saya
mendapatkan ide baru yang lebih praktis tapi menghasilkan omset yang lumayan, karna
sudah tidak ada modal saya mengajak seorang teman saya yang saat itu posisi nya sebagai
Junior saya di kampus yang punya ide dan nasib yang hampir sama, beliau joint dengan modal seadanya juga. Ketika itu kalau di gabung uang kami berdua Cuma Rp.160.000 saja.

Akhirnya brosur catering dan informasi lewat sosial media juga kami tebar sehingga ada
pemesan yang sudah boking sebelum hari pemesanan. Dengan menjalankan catering berdua akhirnya kami bisa kumpulkan uang buat kontrak toko. 24 Mei 2017 kami berhasil buka toko seadanya dan tujuh bulan berjalan, sang punya
kontrakan menyuruh kami pindah dan mencari lokasi lain, dengan alasan pihak toko juga akan berjualan di sana. Akhirnya kami pindah lagi dengan modal seadanya, dapat kontrakan baru membuat kami sedikit lega karena para pelanggan masih bisa order atau singgah ke outlet kami. Pada awal Januari 2018 outlet kami pindah ke tempat yang berbeda ternyata
harus cari langganan baru lagi. Alhamdulillah satu dua bulan berjalan lancar dan mulai ramai
pengunjung, di bulan ketiga yang punya kontrakan juga berulah, beliau juga mau pakai
kontrakan dengan menjual produk yang hampir sama. Pada akhir nya kami pindah tanpa
membawa modal apa-apa, tapi Allah kasi rejeki dari arah yang tak di sangka-sangka. Kami
putuskan ontuk jualan online dan kami memakai kost-kostan tempat kami tinggal sebagai
lokasi nya, dan sekarang alhamdulillah masi berjalan apa adanya dan bisa mencukupi
kehidupan kami sehari-hari.

Kami yakin perjuangan yang begitu panjang akan membuahkan hasil yang baik,
karena rejeki dari Allah dan Allah lah yang mengatur. Sampai saat ini saya masih yakin Allah akan beri kami rezki dan kami tetap harus berusaha untuk mencapainya, niat kami untuk buka outlet yang lebih besar harus terwujud, itulah komitmen kami berdua. Selain itu kami harus menghidupkan lagi semangat kedua orang tua karna di usia senja mereka harus di bahagiakan.

Seandainya impian kami terwujud, kami berharap mempunyai outlet yang lebih besar, banyak pelanggan dan mempunyai sistem manajemen yang baik. Bisa buka cabang di
beberapa tempat. Selain itu menjadi kebanggaan orang tua, keluarga dan senyum mereka
membuat hidup saya lebih bahagia. Semoga di hari tua mereka yang sakit-sakitan ini saya bisa membuat mereka tersenyum dan sembuh.

Setelah Panglima JUARA beri kesempatan ini semangat kami bangkit kembali dan kami berharap permohonan kami ini di terima, dan saya optimis akan bisa buka cabang di beberapa tempat di Sumatera Barat termasuk kampung saya kota Bukittinggi. Karena konsep yang ada pada “Ayam Geprek Juara” belum pernah saya temui di Sumatera Barat. Menarik, unik dan kekinian lebih tepat nya.

Salam Juara
Hari Rahmat

Share this: