Kuliner adalah bisnis yang berhubungan dengan PRODUK dan KOMUNIKASI. Sebagai pebisnis kuliner kita pasti memiliki rasa percaya diri yang kuat kalau produk kita dinyatakan enak oleh diri sendiri, keluarga, saudara, teman dan masyarakat luas yang memiliki banyak latar belakang, baik latar belakang agama, suku, budaya, pendidikan, pekerjaan bahkan latar belakang politik.

Hakekatnya berdagang kuliner adalah mentransfer optimism pebisnis kepada pelanggan. Setelah memiliki produk yang enak, sebagai pebisnis kuliner kita harus bisa membuat tempat bisnis kita menarik sehingga orang yang tahu bisnis kuliner kita, baik tahu dari media social maupun pas lagi lewat memiliki keinginan untuk MENCOBA. Bagaimana mereka akan bilang enak dan menjadi pelanggan yang loyal kalau mereka tidak pernah mencoba. Kita harus memiliki prinsip Suasana membuat MENARIK, rasa membuat BALIK.

Untuk membuat calon pelanggan datang ke outlet kita, pastinya kita sebagai pebisnis kuliner harus memiliki strategy komunikasi. Di era digital sekarang ini, memang banyak sarana komunikasi yang bisa di gunakan oleh pebisnis kuliner untuk memperkenalkan produknya yang masih baru. Tetapi secara umum pebisnis kuliner akan berada di 2 category, yaitu :

1. Memiliki Capital dan sadar akan promosi sehingga bisa membayar media untuk mempromosikan produknya.

2. Minim Capital dan sadar akan promosi sehingga harus kreatif dan produknya bisa dipromosikan media tanpa mengeluarkan biaya.

Pebisnis kuliner yang masuk category no 1, memang lebih dimudahkan dengan kondisi digital saat ini. Paling mudahnya bisa bayar ke media online ternama, media televisi, media cetak maupun social media. Tentu saja kalau kita menggunakan semua model media promosi diatas bisa dipastikan memerlukan budget yang tidak sedikit. Informasi yang saya peroleh dari partner saya yang bekerja di dunia advertising, untuk berpromosi di media televisi memerlukan budget ratusan juta.

Pertanyaannya apakah worthed bisnis kuliner kita yang nilai capitalnya tidak sampai 1 Milyar menggunakan budget promosi yang sampai ratusan juta. Sebagai contoh untuk membuat 1 outlet ayam GEPREK JUARA dengan system bagi hasil ke Investor diperlukan modal sekitar 350juta dimana yang 100juta adalah budget untuk sewa yang 250juta adalah budget untuk renovasi sipil, renovasi kelistrikan dan peralatan.

Itupun tidak ada yang namanya dipungut biaya franchise fee atau biaya yang sifatnya penggunaan merek sebelum usaha itu berjalan dengan lancar dan menghasilkan keuntungan. Atas dasar perhitungan bisnis dan asas kewajaran dalam berbisnis, maka kita sebagai pebisnis kuliner alangkah baiknya berpikir out the box dan menciptakan category ke 3 : *Meskipun memiliki capital tetapi tetap harus kreatif dan produknya bisa dipromosikan media tanpa mengeluarkan biaya*.

Salah satu yang dilakukan adalah menunggang kuda.

Ini salah satu contoh menunggang kuda, ikut lelang mobil KPK dan di muat di beberapa chanel Media Massa dan Televisi resmi nasional.

Berita BBC Indonesia :

Sejumlah warga yang ikut lelang mengaku tertarik dengan rampasan barang koruptor yang dijual dengan harga miring, walau tanpa surat-surat.

Ngurus BPKP dan STNK paling banter Rp3-4 juta,” perkiraan Agung Prasetyo Utomo, pengusaha kuliner Ayam Geprek Juara yang mengincar mobil Isuzu Panther dengan harga pembukaan lelang Rp28 juta.

“Yang kami incar mobil Panther yang nilainya murah banget, limitnya cuma 28 juta. Menurut saya pasarannya di angka Rp70-an juta, sama handphone dengan limit senilai Rp2 juta.”

Dia mengaku sedang mencari kendaraan operasional.

“Ketika melihat di TV ada lelang mobil dari KPK saya tertarik ikut. Kalau saya perhatikan harga limitnya bisa 30 persen di bawah harga pasaran. Saya berharap bisa mendapatkan satu atau dua kendaraan rampasan KPK ini.”

Soal kondisi, menurut Agung mobil tersebut rusak sekali. “Kayak kita beli bangkai. Tapi kita sudah perkirakan kira-kira segitu yah masih untung Rp15-20 juta ya oke lah.”

Selamat mencoba untuk PROMOSI atau DIPROMOSIKAN.

Salam JUARA

Panglima JUARA