Andri Wirawan Sulistyo…orang orang memanggilnya dengan nama panggilan Andri. Pertemuan Panglima JUARA dengannya terjadi di bulan Februari 2018 ketika kunjungan ke kota Yogyakarta dalam rangka mencari lokasi usaha untuk pembukaan cabang ayam GEPREK JUARA. Di Jumat dini hari, kereta dari stasiun Gambir sudah sampai di stasiun Yogyakarta bertepatan dengan adzan subuh. Selepas dari stasiun, saya jalan kaki ke jalanan Malioboro yang tak kurang dari 1km untuk menikmati suasana kota Yogyakarta yang selalu ngangenin….Kota tempat dulu pernah menimba ilmu Bimbingan Belajar selepas SMA sebelum masuk ke perguruan tinggi di Surabaya.

Pagi ini saya habiskan dengan menikmati riuhnya jalanan Malioboro sambil menikmati sarapan pagi khas kuliner Yogyakarta, Nasi Gudeg dengan sajian lengkapnya. Sekarang trotoar di Malioboro semakin nyaman buat wisatawan seperti saya yang suka nongkrong sambil melamunkan kenangan maupun masa depan yang penuh tantangan dan cita cita.

Saat jam menunjukkan 08.00, sudah saatnya saya keliling kota Yogyakarta untuk memetakan lokasi lokasi yang jadi incaran untuk exspansi ayam GEPREK JUARA di kota Yogyakarta. Tentu saja yang paling mudah saya gunakan aplikasi Ojek Online untuk mempermudah perjalanan saya, tak berapa lama kemudian datanglah driver ojol yang saya pesan dengan nopol AB 2693 BN motor Revo tahun 2008.

Setelah muter muter daerah incaran kurang lebih sekitar 1jam, turunlah saya di sekitaran jalan Kaliurang dan mengeluarkan uang dari dompet untuk membayar. Tak saya sangka, pengemudi ojek online tersebut menolaknya dengan halus dan menyampaikan “Maaf Pak, teerimakasih sudah menjadi penumpang saya di hari Jumat yang berkah ini, khusus hari Jumat saya menggratiskan ojek saya sebagai salah satu sedekah saya”….. Mungkin kurang dengan uang bayaran 100.000 yang saya tawarkan, saya tambahin lagi 100.000, menjadi 200.000. Ternyata anak muda ini tetap menolaknya dengan penuh sopan santun.

Akhirnya saya tak kuasa menerima sedekahnya dia, kemudian saya ajak dia untuk ngobrol sama saya di sebuah rumah makan karena saking penasarannya saya dengan apa yang barusan terjadi. Saya ingin tahu kira kira apa melatarbelakangi dia melakukan perbuatan mengratiskan pelayanan ojeknya di tiap hari Jumat. Sambil nongkrong di warung sekitaran jalan kaliurang, ngobrollah kami berdua ngalor ngidul cerita tentang kota Yogyakarta, termasuk cerita tentang jalan mana aja yang terkenal dengan kulinernya sebelum saya masuk lebih detail tentang pribadi anak muda ojek online ini. Ketika suasana mulai cair dan dia mulai merasa nyaman dengan perbincangan kita berdua, saya mulai bertanya tentang pribadi dia. O iya mas, nama kamu kan andri, katanya kamu asal Gunung Kidul….boleh kah saya mendengarkan kisahmu yang jujur sangat menginspirasi aku. Mulailah dia bercerita tentang dirinya… perlahan tapi runut dia coba ceritakan ke saya sebagai berikut…

Nama saya Andri WirawanSulistyo dari Yogja-Gunung Kidul, 4 bersaudara semua laki- laki. Saya anak terakhir. Lahir tepatnya di kabupaten Gunungkidul. Kabupaten yang secara iklim adalah daerah panas/kering. Daerah tempat saya tinggal hampir semuanya bertani. Dan bertani pun hanya mengandalkan hujan. Karena untuk akses air terbatas hanya PAM. Itu saja digilir. Artinya tidak 24 nonstop PAM itu keluar. 1-2 x dalam seminggu. Maka dibuatlah tandon air/bak dari cor semen yang ukurannya bisa menampung 15.000-20.000 liter air. Untuk berjaga-jaga saat tidak mendapat pasokan air. Dan saat musim hujan, daerah kami 100% mengandalkan air hujan untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari.

Keluarga saya termasuk petani. Bapak saya 35 tahun merantau di jakarta sebagai buruh bangunan. Dan pulang per 3 bulan sekali. Ibu saya murni ibu rumah tangga. Saat saya kecil dulu ibu serabutan mencukupi ke 4 anaknya. Jualan lesung keliling (tempat menumbuk padi) dan jualan jamu gendong keliling pasar dan kampung. Bertahan sampai saya SMK.

 

Sejak kecil memang saya jarang di rumah. Masih jaman dulu, masjid merupakan tempat favorit anak seusiaku. Tidur siang dan tidur malam pun kebanyakan di masjid. Saking getol ngaji, maka percepatan ngajiku bisa melampaui teman susiaku. Bukan karena cerdas. Bukan itu. Tapi lingkungan yang membentuk saya seperti itu. Maka saat kelas 1 SMK akhir, saya memtuskan untuk ke pesantren di pusat kota kabupaten. Pon Pes DARUL QURAN WAL IRSYAD, Ledoksari, Kepek, Wonosari. Asuhan KH AHMAD HARIS MASDUQI, LC. Terhitung dari 2002-2009. Saat lulus SMK tahun 2004, pamit ingin menyusul kakak ke jakarta untuk kerja tapi dilarang oleh kyai. Akhirnya batal pergi dari pondok. Langsung ditugaskan beternak puyuh di komplek pondok. Bertahan 1 tahun. Selanjutnya ditugaskan di kantor untuk menerima tamu. Baru ditugaskan ke kantin pondok melayani santri putra-putri sekitar 130 santri. Dr A-Z dikerjakan sendiri.

 

Tahun 2009 keluar dari pondok, pulang ke rumah dan lanjut di pondok dekat kampung selama 1 tahun. Dan 2010 mendapat tawaran untuk belajar ke kuwait selama 1 tahun. Pulang ke indonesia 2011 akhir dan 2012 ke pondok QOLBUN SALIM, bokoharjo, Prambanan sampai 2015.

Pindah ke masjid menjadi marbot selama 2 tahun. Disinilah untuk pertama kali saya terjun langsung ke masyarakat. Berbagai usaha saya lakukan untuk mencukupi kebutuhan hidup. Karena dari pihak masjid tidak memberikan uang saku sama sekali. Hanya gratis tempat tinggal. Maka saya mencoba untuk memanfaatkan lahan sawah milik pemerintah setempat. Saya tanami dengan kemangi dan saya tawarkan ke lesehan area prambanan. Hampir 3 bulan saya jalani. Per 3 hari utk satu lesehan mendapat imbalan 10 rb. Dan cm dapat 3 lesehan. Otomatis harus menghemat mengingaat penghasilan mepet.

Akhirnya saya menghubungi teman di pesantren dulu dan menceritakan kondisi saya saat itu. Karena saya lihat dia memposting menawarkan diri bagi siapa saja yang mau belajar bisnis online dia siap ngajarin. Gratis. Saya belajar 3 bulan ke teman dan alhamdulillah pendapatan lebih cukup daripada saat jualan daun kemangi. Bertahan 1 tahun karena konsentrasi ngaji terganggu.

 

Dan lanjut ditawari ngajar oleh kepala sekolah karena melihat saya pas ngajar jamaah bapak-bapak dan ibu-ibu karena saat itu pas ramadhan. Beliau meminta saya mengajar  di  SD  yang  beliau  pimpin  di  SDIT  BAITURRAHMAN,  tlogo,  prambanan sebagai guru ngaji honorer. dan berbarengan dengan ikut ojek online (GOJEK) sampai sekarang. Ini pun lebih baik dan saya ambil karena pemikiran saya saat itu minim resiko mengingat usaha selalu gagal dan berakhir dengan hutang yang otomatis menyusahkan orang tua dan kakak-kakakku. Pilihan terakhir saya utk sementara waktu memilih yang minim resiko dulu.

 

Sambil belajar di rumah tahfidz Al Muttaqun prambanan, sy belajar ilmu hati kpd seorang ustadz yang sudah saya anggap ayah sendiri….memberi saran agar hidup itu jangan biasa menurut kebanyakan orang. Mulailah pancing rezekimu dengan amal sedekah. Kalau bwlum ikhlas, paksa diri. Mulailah dari hal yang kecil dan sesuai kemampuan. Beliau menantang saya dan anaknya sendiri (karena sama- sama ngojek) “kalau jumat coba berlatih sedekah dengan jasa. Ngojek gratis. Tidak perlu semua gratis. 1-2 saja. Insya Allah kalian nanti akan melihat pencapaian dan percepatan rizki”

 

Kata-kata itu selalu terngiang dipikiran saya. Saya teringat akan tausiah ust Yusuf Mansur bahwa sedekah itu tidak akan dikecewakan Allah. Sedekah disaat kita lapang dan saat kita sempit kekuatan dan hasilnya pun akan berbeda. Maka demi ingin merubah nasib dan berhenti menjadi beban orang tua dan kakak-kakakku, maka kuberanikan diri untuk menjalankan saran dari utadzku. Saat jumat, ngojek gratis. Awal-awal dulu sumpah saya nangis. Nangis kare antara akal dan hati bertolak belakang. Dilema karena kebutuhan jauh dari cukup dan akal selalu berkata sudah dekat jatuh tempo angsuran. Saya punya hutang karena bisnis gagal. Di 3 tempat  sekaligus. Bank,  gadai motor  dan kredit  hp. Total tanggungan sekitar  1,2 jt/bulan. Dalam pikiran saya, saya harus berhenti jadi beban keluarga. Kalau belum bisa bantu, setidaknya jangan ngrepotin.

 

Ibu  berkali-kali  bilang….saking  ibanya  dengan  kondisi  saya,  tiap  doa  selalu saya yang diutamakan. Kakak-kakku malah jarang didoakan karena konsen mendoakan saya. Karena jujur saya adalah anak yg paling dekat dengan orang tua terutama ibu. Hampir tiap hari selalu telpon menanyakan kabar. Maka saya berjanji dalam hati, anak yang selalu membuatmu sedih ini, suatu saat pasti akan jadi anak yang bisa engkau banggakan bu. Aku tahu engkau selalu tidak pede menjawab ketika orang bertanya tentang kondisiku. Semoga aku bisa mengumrohkan secepatnya bersama bapak bu. Insya allah. Kulihat engkau sering dan berkali-kali meneteskan air mata saat menonton tv pengajian bertema haji dan umroh. Dan setiap ada pamitan haji engkau mengalahkan semua aktifitasmu agar bisa hadir untuk ikut mengantar walaupun ikut panas-panasan dengan mencarter mobil bak terbuka demi untuk “ngalap berkah” berharap semoga ketularan bisa sowan ke makkah dan madinah. Aku tahu pikiranmu antara ingin dan sadar diri melihat kenyataan anak-anakmu belum ada yang bisa dan mampu untuk mengajakmu ke tanah suci. Aku tak mau menyesal seumur hidupku karena tidak sempat membawamu menghadap ke ka’bah minimal umroh. Syukur-syukur haji.

 

Jadi Pak, saya punya cita-cita untuk bisa mengumrohkan Ibu saya, yang sekarang usia 67tahun….semoga Allah mengabulkan doa dan cita cita saya ya Pak…

 

Allah lah satu-satu nya penguasa segalanya. Tak ada yang tidak mungkin. Jika allah sudah berfiman “kun” maka dalam sekejap dan berjuta cara,  akan menjadi “fayakun”.

Terima kasih ya robb atas semua kenikmatan yang engkau berikan sampai detik ini. Jadikan harta dan semua pencapaian saat ini dan nanti menjadi rizki yang berkah. Bukan istidroj (kelebihan yg malah menjadikan makin lalai dan makin jauh dr Allah) aamiin aamiin ya robbal ‘aalamiin. Tutup cerita si Andri.

 

Saya terdiam dan tak bisa mengeluarkan sepatah katapun ketika mendengarkan cerita perjalanan hidupnya. Andai tidak berada di warunk ini, mungkin saya orang pertama kali yang akan menitikkan airmata karena haru akan cerita dia…….

Ingin tahu kisah si Andri lebih lanjut… simak kisah selanjutnya…….di Catatan Panglima JUARA….