Share this:

*PANGGILAN HATI SEBAGAI INVESTOR LOKAL LEADER*

By Panglima JUARA

Salah satu peran yang tidak bisa dilepaskan karena menjadi sebuah arti yang penting dari hadirnya ayam GEPREK JUARA di sebuah kota adalah *Investor Lokal Leader*.

Kali ini Panglima JUARA akan menceritakan kembali pengalamannya dengan salah satu Investor Lokal Leader yang sudah mengambil peran ini di salah satu kota di Pulau Jawa dan sekarang sedang menjajagi untuk membawa ayam GEPREK JUARA di kota lain di luar pulau Jawa yang menjadi kampung halamannya, sebuah ibu kota provinsi dihuni hampir 650.000 penduduk.

Nama panggilannya Mr.JR (Nama Samaran), pria berusia 30-an ini berperawakan lumayan tinggi dengan suara khas ini sekarang memiliki ratusan karyawan dengan berbagai bidang bisnis di sebuah kota di bilangan Pulau Jawa. *Saya ingin hadir aktif dalam skema Pemberdayaan yang diusung oleh ayam GEPREK JUARA, karena saya memiliki masa lalu yang penuh tantangan dan perjuangan yang siap saya tularkan, PANGGILAN HATI* ujarnya di awal tahun 2018 sebelum memilih menjadi Investor Lokal Leader.

Dan malam ini Panglima JUARA berkesempatan melakukan petualangan mencari JUARA bersama Mr.JR ke kampung halamannya . Malam ini kita berkesempatan menikmati makan malam di restoran yang terletak di pinggir sungai yang lebarnya hampir 600an meter yang membelah kota ini sambil melihat kapal yang lalu lalang. Panglima, saya ingin menceritakan kenapa saya ingin ikut aktif dalam skema pemberdayaan ayam GEPREK JUARA.

Saya lahir di kota ini tahun 1980 an lalu sebagai anak yang memiliki banyak saudara. Ayah meninggalkan kami sekeluarga karena sebuah kecelakaan ditempat kerjanya pada saat saya masih balita. Sampai sekarang pun saya tidak ingat wajah ayah saya. Ibu saya membesarkan kami semua dalam suasana yang penuh perjuangan, dan ternyata Ibu saya juga dipanggil oleh Allah, meninggalkan kami semua karena sakit disaat saya berusia 12 tahun, lulus dari SD.

Sejak ditinggalkan ibu, semakin penuh perjuanganlah kami semua untuk bertahan hidup sebagai yatim piatu.Tidak terbayang sedikitpun bagi saya untuk bisa sekolah bahkan kuliah. Tetapi saya terus bersemangat dan yakin bahwa saya bisa berhasil dan suatu saat saya harus bisa memberikan manfaat kepada orang lain, ujar Mr JR dengan penuh semangat menceritakan visi misi hidupnya.

Kita tinggal bersama nenek dari ibu saya, dan diberikan bantuan dari salah satu saudara saya yang tiap bulan rutin mengirimkan beras, telur, minyak dan sembako lainnya untuk kehidupan kami semua dengan nenek kami. Akhirnya saya memutuskan untuk bekerja sambil sekolah di usia saya yang menginjak masuk SMP karena saya ingin terus sekolah dan mengejar impian saya. Saya bekerja disebuah bengkel motor, sebagai tenaga admin mencatat semua bon masuk dan keluar sekaligus menjadi Office Boy berbekal sebuah sepeda yang menjadi alat transportasi saya satu satunya.

Saya di gaji setiap minggu oleh pemilik bengkel sebesar 35.000 di hari Jumat, setiap habis gajian saya berikan 15.000 kepada nenek saya untuk hidup sehari hari dan 20.000 untuk keperluan sekolah saya. Jujur, saya merasa kehilangan masa kecil saya selama SMP SMA.Di saat teman teman saya bermain, saya harus bekerja. Disaat teman teman saya berorganisasi di sekolah saya harus bekerja.Disaat teman teman saya ektra kurikuler saya harus bekerja. Sampai sekarang saya lebih dekat dengan temen temen SD daripada temen SMP dan SMA. Ujarnya kalem di malam yang lumayan riuh dengan kecipak air sungai dan suara terompet kapal yang hilir mudik di sungai.

Kamipun menghela nafas lumayan panjang untuk bisa mendengarkan Mr JR bercerita lebih dalam lagi. Ada satu kejadian yang membuat saya bertekad menjadi orang yang sukses sebagai *turning desire* saya. Kala itu saya sebagai office boy diminta untuk membelikan makan siang beberapa karyawan bengkel yang ingin makan siang. Saya berangkat mengayuh sepeda kesayangan saya, sambil membawa bungkusan nasi bungkus di setangnya. Tanpa saya sadari saya ditabrak dengan kencengnya oleh sebuah sepeda motor yang melaju kenceng, jatuhnya saya bergulingan di aspal dan tentu saja nasi bungkus yang saya bawa berhamburan juga di aspal. Sepeda kesayangan saya hancur, peleknya meleyot sana sini dan tidak bisa dipakai lagi.
Untungnya saya tidak mengalami cidera yang parah, Allah masih melindungi saya atas kejadian tadi,ujarnya dengan nada berat dan penuh ekspresi yang dalam.

Setelah kejadian itu, saya berpikir bagaimana saya bisa memperbaiki sepeda saya agar saya bisa beraktifitas seperti biasa. Saya ingat banget, untuk memperbaiki pelek yang rusak itu perlu biaya 35.000 dan saya tidak memiliki uang itu. Yang ada di benak saya, saya ingin secepatnya memperbaiki dan terlintaslah pikiran untuk meminta bantuan kepada saudara saya yang selama ini memberikan bantuannya setiap bulan. Jalanlah saya menuju ke telepon umum dan menelponnya untuk minta uang 35.000.

Mungkin beliau sedang lagi ada masalah atau bagaimana, tetapi suaranya sore itu di ujung telpon begitu kasar kepada saya. Yang saya ingat *KAMU ITU SELAMA INI MEREPOTKAN SAYA, MINTA UANG TERUS* dan panjang lagi yang saya tidak ingat lagi apa yang dikatakannya karena mungkin kekesalannya karena saya minta uang ke beliau untuk memperbaiki sepeda saya.

Hati saya sedih, mata saya berkaca kaca menitikkan buliran airmata mendengarkan suara beliau diujung sana.Saya tahu beliau selama ini sangat baik kepada saya dan saudara saudara saya, mungkin saya mengabarinya disaat yang kurang tepat. Sejak saat itu saya bertekad *SAYA TIDAK AKAN MINTA UANG LAGI KEPADA ORANG LAIN, SAYA HARUS MANDIRI, SAYA HARUS BISA SUKSES, SAYA HARUS BISA MEMBERI MANFAAT KEPADA ORANG LAIN*

Dengan penuh perjuangan dan tantangan, kejadian puluhan tahun lalu itu begitu membekas dan menjadi bahan bakar saya untuk merasa sukses seperti sekarang ini. Singkat kata saya berhasil menyelesaikan SMP,SMA dan kuliah dengan keringat, perjuangan tiada henti dan terkadang dengan tetesan air mata. *JR tidak boleh menyerah, JR harus bisa, JR harus sukses, JR harus menjadi manfaat buat orang lain*.

Syukurlah Panglima, akhirnya saya bisa lulus kuliah di Yogyakarta dan akhirnya bekerja di Astra.Setelah 5tahun di Astra, keputusan pun saya ambil bahwa saya harus melepas status karyawan saya untuk menjadi seorang entrepreneur atau pengusaha. Karena saya merasa dengan menjadi pengusaha saya bisa lebih memberi manfaat kepada orang lain. Dan sekarang ini menjadi kenyataan, walaupun perjuangan sebagai seorang pengusaha tidaklah mudah tapi saya yakin ini jalan saya untuk bisa menjadi manfaat.

Ketika Panglima menginisiasi bisnis ayam GEPREK JUARA : Jaringan Kuliner Kerakyatan *Berjejaring Nasional* Dengan Harga Kerakyatan, berlandaskan 3 PILAR JUARA : *Jamaah, Pemberdayaan, Bagi Hasil dengan semangat NASIONALISME*

Mengusung 2 Konsep JUARA Kuliner : *Suasana Membuat Menarik Rasa Membuat Balik, Sedikit Berbeda Lebih Baik Daripada Sedikit Lebih Baik*

KULINER 100% ANAK BANGSA.
KEMBALI KE KULINER NUSANTARA.

Ganti Saosmu Dengan Sambel NUSANTARA.

Saya merasa terpanggil untuk ikut berpartisipasi aktif mengembangkan *Pilar ke 2 : PEMBERDAYAAN*, memberdayakan saudara sebangsa dan setanah air yang tidak berdaya untuk bisa berdaya dan berjaya di negeri sendiri,ini *PANGGILAN HATI*.

Terimakasih atas kesempatan yang Panglima berikan, semoga apa yang kita cita citakan bisa tercapai.Semoga Allah selalu mempermudah jalan kita semua.

Salam JUARA.

Catatan :
*Investor* : Pihak/Perseorangan/Badan Hukum yang memberikan kontribusi modal dan siap menanggung kerugian finansial 100% apabila terjadi resiko kegagalan investasi sebagai bagian dari resiko bisnis.

*Lokal* : Kota / Kabupaten dimana ayam GEPREK JUARA hadir melayani masyarakat Indonesia.

*Leader* : Pemimpin dari beberapa investor yang melakukan investasi secara berjamaah di lokal suatu kota/kabupaten.

Share this: