Share this:

Jadikan mudik kita bukan cuma ritual dan rutinitas, tetapi juga menjadi ajang mengembalikan JIWA JIWA yang pernah terpendam. Karena masa kecil adalah masa paling penuh mimpi dan mimpi itulah yang akan kita wujudkan.

Setiap kali lebaran hadir, saya selalu ingat bagaimana bapak saya ngajakin muter muter silaturahmi dari rumah ke kota-kota di Jateng Jatim dalam semingguan lebih setelah sholat ied. Lebaran selalu berkesan buat saya sejak saya SD, SMP, SMA. Almarhum bapak saya paling rajin ngajakin tour de saudara, Nganjuk, Solo, Yogya, Magelang, Pandaan balik ke Surabaya sampai Tulung Agung diselesaikan dalam waktu 7 hari. Waktu itu juga belum ada tol kayak jaman sekarang, ingat banget saya naik mobil Hijet 55, dan selalu rebutan ama kakak saya untuk tidur di deret bangku paling belakang. Yang akhirnya saya bapak saya digilir tidurnya agar gantian, kenangan indah yang tak akan terlupa. Mobil buatan Jepang itu tanpa AC, mesinnya berpiston 3, tentunya larinya tidak bisa ngebut seperti mobil sekarang.Inilah kenapa saya ingin jadi Ir tehnik mesin, agar bisa bikin mobil hehehe….makanya saya kuliah di ITS Surabaya.

Dan ibu saya selalu tidak lupa membawa bontotan (Makanan dan Minuman dibawa dari rumah), bontotannya seringnya kita nikmati di pinggir jalan, di perjalanan ke Solo. Di hutan-hutan perjalanan menuju ke Sololah kita biasa ngegelar tikar dan makan sambil di temani riuhnya suara burung hutan.Paling sering biasanya di Monumen Gubernur Suryo yang dibunuh PKI, monumen ini menjadi tempat berlabuh untuk makan siang sekalian belajar sejarah dari bapak saya, saat kami bertiga putra putranya duduk mendengarkan cerita bapak sambil disuapin ibu.

Lebaran sekarang ini, jaman now, terasa beda, lebaran sekarang selain menjadi moment silaturahmi. Saya juga jadikan kesempatan mengenang masa kecil saya, menemukan kembali passion saya. Mengunjungi tempat tempat yang dulu waktu saya kecil suka main, saya duduk berdiam diri merenung disitu, membawa angan saya kembali ke 25 tahuan lalu. Lebaran tahun 2011 saya melakukannya di sebuah pematang sawah yang dekat dengan sungai Cangkringan (nama sungai di desaku), ingatan saya kembali 25 tahun-an lalu.

Waktu itu kita berdua masih anak SMP, kegiatan paling senang adalah memancing dan langsung membakar hasil tangkapan ikannya di pematang sawah samping sungai dan melahapnya tanpa bumbu apapun. Entah kenapa hari itu hasil tangkapan kita berdua, saya dan sahabat saya Mahmud koq dikit dan kamipun masih kelaparan setelah seharian nungguan kail kita. Akhirnya kami berburu kepiting sawah dan di sisa sisa api bekas kami bakar ikan, kami bakarlah yuyu (kepiting sawah) lanjut menyantapnya dengan penuh perjuangan dibalik cangkangnya yang keras. Dalam candaan dan gurauan kita, terucaplah oleh saya, “Coba ya Mud, kalau kita punya banyak rumah makan di seluruh dunia, kita kemanapun pergi bisa makan Gratis”.

Ucapan anak kampung 27 tahun lalu, yang kami jadikan semangat untuk kemudian mendirikan sebuah rumah makan Warung Pepes 33 di Karawang Barat di tahun 2012 sampai sekarang ini. Setelah saya resign dari kantor, semakin bersemangatlah saya mewujudkan mimpi saya 27 tahun lalu, memiliki banyak rumah makan di seluruh dunia agar saya bisa makan gratis kemanapun saya pergi jalan jalan keliling dunia. Tak terasa setelah 2 tahun ternyata jaringan rumah makan ayam GEPREK JUARA sudah hadir di 26 kota dengan 65 cabangnya. Mimpi saya terwujud sedikit demi sedikit, mimpi dan omongan anak kecil usia 14tahun ternyata menjadi sebuah asa terpendam yang tak pernah padam dan bahkan semakin menggelora. Selama saya jadi karyawan, mimpi itu hanya menjadi sebuah lentera yang hampir padam, tetapi setelah lebaran 2011 kemudian saya resign 2016 dan fokus, lentera itu telah menjadi api unggun yang membakar semangat saya tanpa syarat dan tanpa batas.

Sekarang bersama segenap rekan-rekan partner, Investor, Pengelola Lokal, Pengelola Pusat yang tergabung dalam Jaringan Usaha Amanah Ridho Allah (JUARA Group) kami terus berusaha bersama sama mewujukan mimpi kita semua. Bukan sebuah jaringan usaha kuliner biasa, tetapi mimpi ini telah menjelma menjadi sebuah gerakan kebangkitan ekonomi kerakyatan nasional dengan bermotorkan ayam GEPREK JUARA, yang akan nambah makin banyak lagi produk kuliner lainnya dalam semangat Kolaborasi, Pemberdayaan dan Nasionalisme. Tentu saya tidak akan sanggup membangunnya sendirian, hanya dengan bersama-samalah kita semua akan sanggup untuk mewujudkannya. Karena ini bukan tentang kuliner, ini tentang sebuah perjuangan dan pergerakan membangun bangsa.

Sobat JUARA yang masih dalam suasana mudik, yang masih berada di kampung halaman. Jadikanlah moment sekarang ini menjadi moment terindah, momen penuh makna, moment menemukan kembali who am I. Moment menggelorakan semangat tanpa batas dan tanpa syarat dalam balutan Idul Fitri. Semoga Allah SWT selalu mempermudah apa yang menjadi cita cita kita semua sebagai ladang ibadah, ladang manfaat dan ladang mencari nafkah.

Salam JUARA, Panglima JUARA – Manusia 5 Kuadran

Jadikan mudik kita bukan cuma ritual dan rutinitas, tetapi juga menjadi ajang mengembalikan JIWA JIWA yang pernah terpendam. Karena masa kecil adalah masa paling penuh mimpi dan mimpi itulah yang akan kita wujudkan.

Share this: