Share this:
*KATA SIAPA PAPUA INDAH & RAMAH???*

*Petualangan Panglima JUARA 28 Agustus 2018 sd 15 September 2018 : PAPUA *

Petualangan Indonesia Timur telah berakhir dengan touch down 0Km Merauke Sabang di Sota – Merauke dan hari ini 15 September 2018 saya kembali ke Jakarta setelah 21 hari menjelajah nusantara di Indonesia Timur terutama Papua. Perjalanan yang penuh dengan pengalaman seru, baru dan tidak terlupakan. Banyak sekali catatan selama melakukan perjalanan ke Papua, satu persatu akan saya bagikan untuk semua sahabat JUARA.

*MENJADI MANUSIA PERTAMA KALI DI DUNIA YANG MENGINJAKKAN KAKI DI KOTA MERAUKE DAN KOTA SABANG DALAM 3 BULAN DI TAHUN 2018* adalah target Blueprint Kehidupan Panglima JUARA di tahun 2018.

Selama di Papua, saya menginjakkan kaki dan bermalam di 4 kota yang ada di Papua : Jayapura, Sorong, Merauke dan Raja Ampat termasuk di Sota : 0km Merauke Sabang.

*TRANPORTASI*
Perjalanan saya antar kota dilalui dengan pesawat terbang karena secara fasilitas memang tidak memungkinkan menggunakan jalur darat
Bisa dikatakan bandar udara adalah terminalnya bus untuk melakukan perjalanan luar kota di Papua. Beruntung saya merupakan member Sriwijaya Air & Nam Air yang sudah menghubungkan hampir semua kota yang di Papua. Meskipun perlu diperbaiki mengenai ketepatan waktunya, tetapi selama perjalanan membuat saya nyaman dengan pelayanan dan keramahan dari crew pesawat. Tetapi jalanan di dalam kota dengan menggunakan mobil dan motor dengan nyaman.

*FASILITAS JALAN*
Selama saya muter muter di ke 4 kota tersebut bisa di katakan semua fasilitas jalan tidak jauh berbeda dengan kota kota yang ada di pulau Jawa,Sumatera,Kalimantan,Sulawesi. Kesempatan luar kota hanya saya rasakan ketika perjalanan Merauke ke Sota 0km Merauke sejauh hampir 80km dengan fasilitas jalan yang cukup memadai dengan 2 jalurnya.Dan kebetulan juga lagi proses pelebaran jalan. Tapi sudah cukuplah memadailah dengan menggunalan mobil sejuta umat Avanza.

*MAKAN MINUM*
Pengalaman yang seru ketika saya menikmati makanan asli Papua yaitu Papeda, terbuat dari sagu dan lengket lengket hampir seperti lem. Makannya dengan ikan kakap kuah kuning, buat saya masih lebih enak daripada makan Nato yang pernah saya makan di Jepang. Ikan mujair dari danau sentani menjadi jamuan makan malam yang mengundang selera dengan baluran sambal bawang dengan ada sedikit aroma jahenya. Diluar itu makanan di Papua lebih banyak tersaji dengan menu olahan ikan laut dan ayam lalapan (penyetan).

*WISATA*
Salah satu target saya adalah datang ke Raja Ampat dan ternyata memang seperti melihat serpihan surga yang di turunkan di bumi Indonesia. Keren banget disini untuk wisata pemandangan alam, laut dan bermukin di homestay merupakan hal yang perlu dicoba. Listrik hanya ada jam 18.00 sd 24.00 dengan genset pemilik, makanan apa adanya dengan sayuran dan ikan ikanan.Tetapi rasa ikannya luar biasa, manis, gurih terasa fresh. Mengunjungi Pyanemo, Telaga Bintang, Snorkling merupakan pengalaman indah untuk cuci mata dan pikiran yang penat selama di Jakarta. Untuk biaya 3 hari 2 malam sekitar 4jt package wisata Raja Ampat memang mungkin agak terasa mahal dibandingkan ke Bali. Tetapi semuanya terbayarkan dengan sajian keindahan yang ditemui. Mahalnya wisata ke Raja Ampat lebih karena transportasi yang semuanya menggunakan boat dan group kurang dari 10 orang. Kalau dengan group 10 an orang ke atas bisa diangka 3jta. Penjemputan bandara Sorong, makan minum, homestay dan sekaligus boat selama di Raja Ampat.

*HARGA BAHAN BAKU*
Saya menyempatkan diri untuk melakukan survey 13 September 2018 di pasar Wamanggu – Merauke yang merupakan kota terjauh di ujung timur Papua di pagi dini hari dengan hasil sebagai berikut :
– Cabe : Rp 50.000/kg sd 80.000/kg paling mahal kalau lagi ada kirim ke Jayapura n Timika
– Bawang Putih Kupas : Rp 25.000/kg
– Bawang Merah kupas : Rp 40.000/kg
– Timun 1 bungkus isi 4 : 5.000 sd pernah 20.000 pada saat kemarau susah air.
– Kemangi 1 ikat : 1.000/ikat sd 2000/ikat.
– Tomat : 5.000/kg pernah 2.000/kg
– Tempe 3 biji : 5.000
– Beras : 8.000 sd 10.000/kg karena merauke lumbung beras nasional.
– Telur ayam 1 rak 30 butir : 50.000 sd 70.000 dilihat besar kecil.
– Jagung 1 biji : 2500 sd 4000 paling mahal.
– Ayam Karkas 1.1ons = Rp 52.000/ekor di Sota kalau di Merauke Rp 45.000/ekor
Menurut saya tidak jauh berbeda dengan harga di Jakarta.

*SILATURAHMI*
Hampir semua kota di Papua tidak hanya dihuni oleh saudara kita asli dari Papua, bahkan hampir ada dari semua suku yang ada dari pelosok nusantara, Bugis, Jawa, Padang dan semuanya hidup dalam toleransi yang tinggi.Mereka yang bukan suku asli Papua kebanyakan juga sudah kelahiran di Papua yang sebelumnya orang tuanya merupakan peserta transmigrasi jaman orde baru.Saya juga banyak melihat bangunan Masjid, Gereja yang megah megah menyerupai yang ada di kota kota di Jawa. Bahkan kumandang adzan juga menyambut saya ketika saya turun di Bandara Sentani. Tingginya toleransi yang ada di Papua menunjukkan bahwa Pancasila, UUD 1945 dan Bahasa Indonesia menjadi menjadi salah satu perekat. Bahkan beberapa temen yang saya jumpai mengaku tidak punya lagi kampung halaman di Jawa karena mereka lahir dan hidup di Bumi Papua tanpa pernah pulang ke Jawa.

*BAHAN BAKAR MINYAK*
Sempat menjadi berita yang lumayan panjang bahwa pemerintah sekarang berusaha menjadikan satu harga untuk bahan bakar minyak, memang kalau di kota harganya sama dengan Jawa tetapi ketika di Raja Ampat saya tanya ke para pemilik boat, mereka membeli bensin di harga 13.000/liter makanya kenapa sewa boat di Raja Ampat lumayan terasa sewanya buat wisatawan. Parahnya lagi, harus bayar cash karena memang secara akomodasi belum ada cashless.Listrik, bahkan PLN baru akan masuk Desa Yenbuba di tahun ini, saya melihat tiang listrik dan jaringannya sudah berdiri. Semoga pemerataan pembangunan segera menyeluruh di pelosok nusantara.

*NYAMUK* 
Bener sekali kata temen temen saya tentang nyamuk Papua yang ganas, trengginas dan pejuang tangguh. Selama saya di Papua walaupun didalam kota, saya di gigit nyamuk di Papua dan bentolnya sudah 1 mingguan tidak hilang. Kayak digigit semut rang rang yang besar itu. Menjaga stamina dengan makan teratur dan minum vitamin harus dilakukan agar jangan sampai kita terkena malaria yang menjadi momok wisatawan yang datang ke Papua. Oleh oleh bentol bentol karena digigit nyamuk terpaksa saya bawa pulang ke Jakarta.

Akhir kata, saya menyampaikan terimakasih kepada semua pihak yang menemani, bersama dengan saya selama saya di Papua, sehingga memberikan kenangan terindah bagi saya selama di Papua.

Secara overall, sangatlah Indah dan Ramah semua environment yang ada di Papua. Berdasarkan pengalaman saya, hanya kenangan terhadap nyamuk PAPUA yang meninggalkan rasa tidak Indah dan tidak Ramah. Tetapi jangan sampai kita kalah oleh nyamuk dan tidak berani menengok serpihan surga yang diturunkan di bumi Papua.

*Goodbye and See You Again Another Day*

*Izakod Bekai Izakod Kai*
Satu Hati Satu Tujuan

SALAM JUARA

Share this: