Share this:

Semua berjalan begitu indah disaat aku kecil, seorang anak manusia yang menyapa dunia 41 tahun yang lalu. Sebuah kota kecil di selatan Jawa Timur yang dikenal dengan sebutan Kota Angin karena diapit oleh 2 buah pegunungan disisi utara dan sisi selatan. Pegunungan Kendeng Utara dan Pegunungan Kendeng Selatan yang mengakibatkan datangnya angin yang bersahut sahutan sepanjang hari, itulah kampung halaman Panglima JUARA, kota Nganjuk – Jawa Timur.Pada zaman Kerajaan Medang, Nganjuk dikenal dengan nama Anjuk Ladang yaitu Tanah kemenangan.Hari jadi Kabupaten Nganjuk diperingati setiap tanggal 10 April, tahun ini yang ke 1082. Luas Kabupaten Nganjuk adalah sekitar 122.433 km2 dan menurut Kementerian Pertanian (Kementan), Kabupaten Nganjuk menjadi salah satu daerah fokus pemerintah untuk menyerap bawang merah dan menjadi stok pemerintah tiap tahunnya.

Aku dilahirkan dengan dihadiahkan nama Agung Prasetyo Utomo oleh kedua orang tuaku dengan panggilan sejak kecil Agung.Nama ini memiliki makna yang luar biasa, Agung =Besar, Prasetyo = Kekuatan , Utomo = Utama, sebuah Kekuatan Utama Yang Besar. Ujian pertama kalinya adalah karena berawalan dengan abjad A , maka selalu berada di urutan pertama dalam setiap daftar absensi dikelas, dan selalu mendapat kesempatan pertama untuk menjawab pertanyaan guru mulai dari SD, SMP, SMA. Aku menimba ilmu di SD Payaman 2 Nganjuk yang terletak di Jl Dr Soetomo Nganjuk, depannya Gedung Juang 45 yang terkenal di kotaku ini. Cerita tentang Dr Soetomo putra asli Nganjuk,salah satu pahlawan bangsa Indonesia yang mencetuskan pergerakan kebangkitan nasional mengusir penjajah belanda melalui gerakan Boedi Utomo nya.

Lulus 6 tahun di SD Payaman 2 Nganjuk sejak 1984 sd 1990, aku melanjutkan pendidikan SMP ke tengah kota, tepat di sebelah Alun Alun Kota Nganjuk dan kantor pemerintahan kota ini, yah…SMPN 1 Nganjuk menjadi tempat aku menimba ilmu bersama 300an temen temen aku seangkatan. Salah satu kenangan terindah aku ketika berada di SMP ini adalah, setiap hari aku harus berjalan kaki atau naik sepeda dari rumah ke sekolahanku ini dengan penuh riang gembira bersama temen temanku. Ditemani dengan sepatu hitamkoe yang istimewa menapaki setiap jalanan hitam aspal ini.

Tak terasa waktu terus berlalu sehingga aku tak terasa 3 tahun sudah menyelesaikan pendidikan di SMP, kemudian melanjutkan pendidikan di sebuah SMA yang aku pilih karena dekat dengan rumahkoe. Sehingga aku bisa berangkat sekolah dengan naik sepeda maupun jalan kaki menyusuri pematang sawah dengan tanaman padinya yang menghijau. Selama di SMA ini aku aktif di berbagai kegiatan kesiswaan mulai dari OSIS, Pramuka, PMR dan bahkan menjadi ketua organisasinya. Disinilah saya banyak belajar berorganisasi dan banyak berinteraksi dengan teman teman, guru, maupun pihak lain di luar sekolah yang melatih leadership aku.

Akhirnya kota Nganjuk harus aku tinggalkan untuk menuntut ilmu, cita cita ku adalah menjadi seorang TNI atau Abdi Negara seperti yang dijalanin oleh Kakek dan Ayahanda aku. Tetapi nasib mengatakan lain, aku tidak lulus seleksi masuk AKABRI dan STPDN, tetapi tidak menyurutkan niat aku untuk terus menimba ilmu perguruan tinggi. Berlabuhlah aku di sebuah perguruan tinggi negeri di kota Surabaya, ITS Surabaya jurusan Tehnik Mesin. Aku selesaikan pendirikan sebagai seorang Sarjana Tehnik dari tahun 1996 sd 2001 dengan menjadi lulusan terbaiknya dan langsung bisa diterima di Toyota Astra Motor sebagai seorang engineer.

Semua mimpi dan harapan itu saya tuliskan di rumah mungil yang dibangun ke dua orang tua saya di kelurahan Bogo Nganjuk. Satu yang saya ingat di saat aku SMP bersama sahabatkoe Mahmud di sebuah pematang sawah setelah bermain di sungai memancing ikan kemudian membakarnya di tepian sawah. “Mud, kayane enak banget kalau kita nanti punya warung makan diseluruh Indonesia, kemana mana kita bisa makan gratis. Sambil kita keliling Indonesia”. Sambil menikmati ikan bakar yang agak sedikit gosong karena api yang terlalu besar. Disitulah saya merajut mimpi untuk memiliki warung makan, dan sekarang mimpi saya terwujud dengan adanya rumah makan ayam GEPREK JUARA yang telah berada di 26 kota dengan 65 cabang seluruh Indonesia. Dan akan terus berkembang menuju One City One JUARA, 514 kota kabupaten.

Mulailah dengan tujuan akhir, dan aku mulai mimpiku sejak 25 tahun yang lalu….. Selalu ada mimpi di setiap cerita anak manusia.Apa mimpimu kawan????

Panglima JUARA – Manusia 5 Kuadran

Journey Panglima JUARA: Memupuk Harapan Merajut ImpianSemua berjalan begitu indah disaat aku kecil, seorang anak manusia yang menyapa dunia 41 tahun yang lalu. Sebuah kota kecil di selatan Jawa Timur yang dikenal dengan sebutan Kota Angin karena diapit oleh 2 buah pegunungan disisi utara dan sisi selatan. Pegunungan Kendeng Utara dan Pegunungan Kendeng Selatan yang mengakibatkan datangnya angin yang bersahut sahutan sepanjang hari, itulah kampung halaman Panglima JUARA, kota Nganjuk – Jawa Timur.Pada zaman Kerajaan Medang, Nganjuk dikenal dengan nama Anjuk Ladang yaitu Tanah kemenangan.Hari jadi Kabupaten Nganjuk diperingati setiap tanggal 10 April, tahun ini yang ke 1082. Luas Kabupaten Nganjuk adalah sekitar 122.433 km2 dan menurut Kementerian Pertanian (Kementan), Kabupaten Nganjuk menjadi salah satu daerah fokus pemerintah untuk menyerap bawang merah dan menjadi stok pemerintah tiap tahunnya. Aku dilahirkan dengan dihadiahkan nama Agung Prasetyo Utomo oleh kedua orang tuaku dengan panggilan sejak kecil Agung.Nama ini memiliki makna yang luar biasa, Agung =Besar, Prasetyo = Kekuatan , Utomo = Utama, sebuah Kekuatan Utama Yang Besar. Ujian pertama kalinya adalah karena berawalan dengan abjad A , maka selalu berada di urutan pertama dalam setiap daftar absensi dikelas, dan selalu mendapat kesempatan pertama untuk menjawab pertanyaan guru mulai dari SD, SMP, SMA. Aku menimba ilmu di SD Payaman 2 Nganjuk yang terletak di Jl Dr Soetomo Nganjuk, depannya Gedung Juang 45 yang terkenal di kotaku ini. Cerita tentang Dr Soetomo putra asli Nganjuk,salah satu pahlawan bangsa Indonesia yang mencetuskan pergerakan kebangkitan nasional mengusir penjajah belanda melalui gerakan Boedi Utomo nya.Lulus 6 tahun di SD Payaman 2 Nganjuk sejak 1984 sd 1990, aku melanjutkan pendidikan SMP ke tengah kota, tepat di sebelah Alun Alun Kota Nganjuk dan kantor pemerintahan kota ini, yah…SMPN 1 Nganjuk menjadi tempat aku menimba ilmu bersama 300an temen temen aku seangkatan. Salah satu kenangan terindah aku ketika berada di SMP ini adalah, setiap hari aku harus berjalan kaki atau naik sepeda dari rumah ke sekolahanku ini dengan penuh riang gembira bersama temen temanku. Ditemani dengan sepatu hitamkoe yang istimewa menapaki setiap jalanan hitam aspal ini.Tak terasa waktu terus berlalu sehingga aku tak terasa 3 tahun sudah menyelesaikan pendidikan di SMP, kemudian melanjutkan pendidikan di sebuah SMA yang aku pilih karena dekat dengan rumahkoe. Sehingga aku bisa berangkat sekolah dengan naik sepeda maupun jalan kaki menyusuri pematang sawah dengan tanaman padinya yang menghijau. Selama di SMA ini aku aktif di berbagai kegiatan kesiswaan mulai dari OSIS, Pramuka, PMR dan bahkan menjadi ketua organisasinya. Disinilah saya banyak belajar berorganisasi dan banyak berinteraksi dengan teman teman, guru, maupun pihak lain di luar sekolah yang melatih leadership aku.Akhirnya kota Nganjuk harus aku tinggalkan untuk menuntut ilmu, cita cita ku adalah menjadi seorang TNI atau Abdi Negara seperti yang dijalanin oleh Kakek dan Ayahanda aku. Tetapi nasib mengatakan lain, aku tidak lulus seleksi masuk AKABRI dan STPDN, tetapi tidak menyurutkan niat aku untuk terus menimba ilmu perguruan tinggi. Berlabuhlah aku di sebuah perguruan tinggi negeri di kota Surabaya, ITS Surabaya jurusan Tehnik Mesin. Aku selesaikan pendirikan sebagai seorang Sarjana Tehnik dari tahun 1996 sd 2001 dengan menjadi lulusan terbaiknya dan langsung bisa diterima di Toyota Astra Motor sebagai seorang engineer. Semua mimpi dan harapan itu saya tuliskan di rumah mungil yang dibangun ke dua orang tua saya di kelurahan Bogo Nganjuk. Satu yang saya ingat di saat aku SMP bersama sahabatkoe Mahmud di sebuah pematang sawah setelah bermain di sungai memancing ikan kemudian membakarnya di tepian sawah. "Mud, kayane enak banget kalau kita nanti punya warung makan diseluruh Indonesia, kemana mana kita bisa makan gratis. Sambil kita keliling Indonesia". Sambil menikmati ikan bakar yang agak sedikit gosong karena api yang terlalu besar. Disitulah saya merajut mimpi untuk memiliki warung makan, dan sekarang mimpi saya terwujud dengan adanya rumah makan ayam GEPREK JUARA yang telah berada di 26 kota dengan 65 cabang seluruh Indonesia. Dan akan terus berkembang menuju One City One JUARA, 514 kota kabupaten. Mulailah dengan tujuan akhir, dan aku mulai mimpiku sejak 25 tahun yang lalu….. Selalu ada mimpi di setiap cerita anak manusia.Apa mimpimu kawan????Panglima JUARA – Manusia 5 Kuadran

Dikirim oleh Agung Prasetyo Utomo pada Minggu, 02 Juni 2019
Share this: