Share this:

Lebaran tahun ini menjadi lebaran yang penuh dengan pembelajaran buat kedua calon CEO JUARA, yang sekarang baru berusia 13 tahun dan 12 tahun. masing masing masih sekolah SMP, tetapi mereka sudah belajar investasi sebagai pemegang sahamnya ayam GEPREK JUARA semenjak tahun 2017 meskipun waktu itu mereka harus merelakan 100% tabungannya dipindahkan dari rekening bank mereka ke modal ayam GEPREK JUARA bersama sama investor urunmodal lainnya yang hampir 100 an orang.

Tahun 2017 saya harus menjelaskan kepada mereka berdua tentang kuadran Investor, memberikan edukasi tentang resiko resiko sebagai seorang investor termasuk intrument investasi seperti deposito, property, bisnis sebagai pemegang saham di emiten bursa efek Indonesia, atau saham di bisnis sendiri kayak di AGJ, sampai menjelaskan arti inflasi.

Dan bagaimana target sebagai seorang investor untuk mendapatkan passive income, dengan goal buat mereka adalah menanamkan mindset keuangan yaitu pasive income mereka lebih gede dari kebutuhan hidup dan gaya hidup mereka. Dan alhamdulillah dua anak SD itu bisa memahami dan mengerti sampai akhirnya mereka pindahkan tabungan mereka ke ayam GEPREK JUARA dan mulailah mereka menjadi Investor AGJ. Dua anak ini adalah anak saya yang no 1 dan no 2 yang sedang saya siapkan menjadi Bisnis Owner dan Investor. Agar mereka tumbuh dengan mindsetnya sama dengan yang saya miliki. Karena di sekolah tidak pernah diajarin tentang kecerdasan financial dan management keuangan yang sangat penting dalam mengarungi ekonomi.

Matery lebaran 2019 ini adalah tentang sebuah leadership yang dicontohkan oleh seorang maestro pendidikan yang menjadi pahlawan bangsa ini yaitu Ki Hajar Dewantara. Sebagai Bapak Pendidikan Nasional sekaligus sebagai pendiri sekolah taman siswa di tahun 1922. Kali ini kami sekeluarga tidak mudik ke kota halaman Nganjuk, tetapi kami bersama dengan keluarga besar istri saya yang tinggal di Jakarta pergi ke Kota Cirebon selama 3 hari 2 malam.

Salah satu agenda dalam perjalanan ini adalah pembelajaran tentang leadership yang dicontohkan oleh Ki Hajar Dewantara dengan mengenalkan prinsip seorang pemimpin yaitu “Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madya Mangun Karso, Tut Wuri Handayani”. sebuah semboyan sakti untuk kita semua yang menjadi pemimpin sebuah organisasi baik itu organisasi pendidikan maupun organisasi bisnis termasuk organisasi JUARA.

Ki Hajar Dewantara yang di kenal sebagai tokoh pendidikan republik ini yang wajahnya pernah diabadikan pada uang kertas Rp. 20.000,-. Pengangkatan Ki Hajar Dewantara sebagai tokoh pendidikan bangsa ini bukannya tanpa sebab, tapi beliau memang di kenal aktif dalam gerakan pendidikan semasa hidupnya. Cita – cita besarnya adalah membebaskan bumi putra (masyarakat Indonesia) dari kebodohan dan membentuk karakter intelektual kepada kaum muda yang dianggapnya sebagai penerus pribadi daulat bangsa.

Ing Ngarso Sung Tulodo memiliki arti memberikan tauladan di depan, Ing Madya Mangun Karso memiliki arti ditengah membangun semangat dan Tut Wuri Handayani itu sendiri berarti memberikan dorongan dari belakang.

Metode belajarnya saya mulai dengan menonton kisah kisah Ki Hajar Dewantara di media sosial media You Tube, kemudian dilanjutkan dengan saya menjelaskan makna dan contoh contohnya secara nyata yang terjadi dalam sejarah bangsa Indonesia. Kemudian saya mencarikan contoh kejadian kejadian yang ada di dalam bisnis AGJ yang merupakan praktek dari prinsip “Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madya Mangun Karso, Tut Wuri Handayani”.

Saya berusaha untuk bisa mendapatkan contoh nyata bukan TV bukan You Tube tapi nyata disekitar kita orang yang kita kenal dan langsung bersentuhan dengan bisnis ayam GEPREK JUARA dan telah mempraktekkan apa yang menjadi semboyan kepemimpinan diatas. Akhirnya saya ceritakan tentang perjalanan dan apa yang dilakukan oleh salah satu Pengelola Lokal JUARA yang sudah memiliki kelolaan 4 outlet di AGJ Tasik 1, AGJ Tasik 2, AGJ Garut, AGJ Pangandaran dan sekarang lagi mengembangkan ke AGJ Banjar dan AGJ Bandung, namanya Kang Wawan.

Saya mengenal kang Wawan tahun lalu 2017 di bulan Nov sebagai salah satu peserta Juara Camp 2017 (Juara Camp adalah kegiatan homecoming 3 hari 2 malam bersama Panglima JUARA menginap di rumah saya, dan gratis semua akomodasinya). Beliau saya kenal sebagai sosok yang bertransformasi dari karyawan menuju ke self employed sebagai PL AGJ dengan motivasi utama adalah
1. Hijrah Anti Riba
2. Ingin tiap hari berangkat mencari nafkah dengan cium ibunya.
3. Tidak ingin lagi kejadian seperti ramadhan 2017, saking susahnya hidupnya beliau sampai tidak bisa bayar zakat fitrah.

Yang saya ingat beliau bercerita didepan semua peserta Juara Camp sambil berkaca kaca, mungkin menahan kesedihan yang mendalam dari seorang Manager sebuah perusahaan nasional yang sedang berhijrah. Waktu itu tanpa pikir panjang saya langsung setuju bikin AGJ di Tasikmalaya, dalam rangka mewujudkan ke 3 mimpinya itu, sebuah mimpi yang kuat yang dia tetapkan.

Secara performance outlet AGJ, kita evaluasi hasilnya bagus bagus apalagi outlet yang dia kelola tidak semuanya berada di tengah kota. Ini pasti bukan kejadian yang tanpa rencana, ini pasti berhubungan dengan leadership, ikhtiar, doa dan tawakal.

Beberapa contoh nyata yang saya ceritakan kembali ke anak anak saya tentang prinsip “Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madya Mangun Karso, Tut Wuri Handayani” dan telah di praktekkan kang wawan sbb :

1. Ing Ngarso Sung Tulodho, setiap kali rekruitment karyawan baru, Kang Wawan ini orang yang paling rajin menjadi Trainer, selalu ngajarin didepan ke teamnya dia yang baru.
Beliau punya semangat, bahwa, Saya harus yang pertama kasih contoh, dan sebagai pemimpin di operation, dia bisa mengerjakan dari A sampai Z…ini luar biasa.

2. Ing Madya Mangun Karsa : ketika pemimpin berada di tengah maka harus bisa jadi semangat buat teamnya. Sekarang kang Wawan kelola sekitar 40 orang sebagai karyawan, rata rata lulusan SMA, dan ternyata 60% nya masih kuliah dan didorong oleh dia untuk kuliah, luar biasa bukan, cara dia membangun semangat teamnya…Dia buatkan jadwal masuk kerja, yang sangat flexible membuat teamnya tetap bisa kuliah dan operational outlet tetap berjalan dengan performance terbaik, buka dari jam 10.00 sampai 22.00. Kalau ada yang gak bisa sesuai jadwal, diminta saling diskusi sendiri sesama teamnya.

3. Tut Wuri handayani, kalau berada di belakang seorang pemimpin bisa kasih dorongan. Dan dia memaknainya sebagai delegasi, mendelegasikan tugas secara 100% full percaya tetapi tetap memonitornya untuk memastikan pekerjaan yang didelegasikan berjalan dengan baik.
Di bulan ramadan ini dia pakai cara luar biasa, dia bilang ke teamnya, saya tinggal kalian selama 10 hari terakhir ramadan dan silahkan di operationalkan outlet. Saya akan itikaf di Yogya di masjid Jogokariyan, dengan terus memonitor semua tanggung jawab melalui Group WA yang saya juga berada didalamnya. Tut Wuri Handayani ini jaman digital sekarang ini sangat tertunjang dengan adanya tehnologi digital salah satunya kita menjadi WA Preneur.
Wawan 10 hari terakhir Itikaf disana bersama keluarga yang anaknya masih dibawah 8 tahun ada 4 orang.

Kisah kang Wawan yang juga saya ceritakan ke anak anak saya, dan saya minta anak anak saya telepon ke kang Wawan untuk mendengarkan langsung apa yang saya ceritakan.

Tuntas sudah apa yang ingin saya sampaikan kepada Calon CEO CEO JUARA di lebaran kali ini dengan sebuah edukasi, praktek, pemahaman tentang prinsip sebuah kepemimpinan yang di contohkan oleh Ki Hajar Dewantara yang sekaligus kita praktekkan di JUARA Group.

Dengan Tiga Pilar JUARA : Kolaborasi, Pemberdayaan, Nasionalisme, kami di JUARA Group akan terus mengangkat apa yang menjadi nilai nilai luhur bangsa Indonesia yang di contohkan oleh para pahlawan pendiri bangsa ini. Semoga perjuangan kebangkitan nasional ekonomi kerakyatan melalui Jaringan Usaha Amanah Ridho Allah ini bisa memberikan impact positif ke bangsa, negara dan agama.Dan itu perlu peran serta semua element bangsa ini untuk memwujudkannya terutama para Investor JUARA dan Pengelola JUARA agar pergerakan ini mendapatkan selalu Ridho Allah.

Salam JUARA, Panglima JUARA – Manusia 5 Kuadran

Share this: