Share this:

Core competence = keahlian inti yg dimiliki perusahaan yg bersifat unik, valuable dan sulit ditiru oleh pesaingnya… Keahlian yg membedakan perusahaan dengan pesaingnya.

Misalnya ada seorang ibu yg jago masakan padang yg super enak, itu menjadi core competence dari si ibu.

Honda core competence nya membuat mesin kecil. Perusahaan ini bermula dari membuat mesin pemotong rumput…akhirnya menjadi beberapa produk motor, mobil dll.. yg tetap dlm satu kesamaan yaitu menggunakan motor kecil

Ada perusahaan makanan & minuman yang core competence nya membuat minuman serbuk.. merek merek happy juss, anget sari dll…. Sekarang sednag akan mengembangkan makanan hewan yg berangkat dari core competence membuat bahan2 serbuk.

Ayam GEPREK JUARA yang core kompetensinya di ayam juga fokus pada per ayam an. Dan bisa segera mengisi ceruk pasar di seluruh Indonesia dalam waktu singkat tetapi akurat. Profit, Growth dan Sustain.

Konsep Core Competence ini ramai dibahas di era 80 – awal 2000an… Di era VUCA saat ini konsep ini banyak di challange …. Dan mulai di tinggalkan juga buat sebagian start up.

Banyak perusahaan tumbang justru karena terlalu berfokus pada core competence …. Core competence menjadi core rigidity nya.

Core rigidity adalah ‘kekauan inti’ sisi lain dari core competence yang terjadi karena perusahaan mengandalkan terlalu lama pada keunggulan yg dimilikinya. Tanpa mau melakukan inovasi, kreativitas dan flexibilitas.

Restoran ayam GEPREK JUARA yang berjejaring nasional secara terus menerus mengabsorb yang namanya kearifan lokal. Seperti adanya ayam geprek sambel matah di Bali. Adanya lele geprek..nila geprek..empal geprek di cabang Madiun danlainya.

Di era uncertainty yg semua hal mudah berubah seperti ini, perusahaan justru dituntut memiliki flexibilitas untuk belajar hal hal baru

Kodak misalnya, menjadi iconic industry leader unt traditional photograph. Core competence nya adalah membuat film… Perusahaan ini miss dengan perkembangan teknologi digital photography dan printing

Hal yg sama terjadi pada Nokia, blackberry dll… Mereka perusahaan yang terlalu rigit pada core competence nya.

Jangan lupa sama BenQ yang over pede dan majemuk produknya.

Ada sedikit diversifikasi, mungkin itu ya istilahnya.
Untuk motor kayak Honda Goldwing, EN, Shadow, Valkryie, dll menggunakan mesin upto 1800cc dimana ini tidak umum untuk motor gede.
Ini bagian dari strategi apa?

Core competence Honda…. Yang diturunkan menjadi core produknya dari mesin mesin ringan.

Core competence ini akan obsolete kalau teknologi baterai berkembang, sehingga kendaraan listrik dapat diproduksi dalam skala massal dengan harga yang murah.

Karena itulah bisnis di tuntut menjadi flexible… Karena fokus pada core competence bisa menjadi core rigidity (kekauan inti), padahal lingkungan yg berubah cepat seperti ini adaptive menjadi kunci sukses.

“A succesful management relaxes its improvement efforts, others keep on getting better and obsolete its competitive advantage ( focus only on their core competence)” … Kutipan menarik dr artikel Harvard Business Review “beyond core competence”

Core competence dibarengi dengan terus menerus reinventing core competence.

Tahun 80 an adalah akhir dari konsep konglomerasi yg dulu dianut oleh banyak perusahaan termasuk unilever. Meninggalkan konglomerasi menjadi fokus pada core competence.

Konsep Core Competence (CC) ini lahir untuk mengkritisi konglomerasi… tokoh terkenal di strategic management yg mengeluarkan konsep CC adalah Prahald (almarhum). Th 1990 menulis di HBR dan jadi trending…Prahald mengkritisi konglomerasi di india.. walaupun waktu itu dibalas oleh salah satu CEO bahwa CC perusahaannya adalah “memenangkan policy pemerintahan dan membentuk oligarchy bisnis” 😂

Selain bisa menjadi potensi Core Rigidity, perusahaan yg fokus pada CC juga memiliki kelemahan karena lebih sensitif dan melakukan instropeksi internal untuk terus meningkatkan kopetensi nya agar dapat menciptakan value bagi pelanggan

Dengan kata lain, usaha perusahaan akan difokuskan pada peningkatan secara terukur dr CC nya : misalnya meningkatkan penjaulan yang lebih baik, manufaktur/pemasaran/finance dll lebih baik, memperkerjakan sdm lebih baik,. Struktur biaya lebih baik dll… Goal nya adalah penciptaan value bagi pelanggan.

Artinya… Pelanggan diposisikan sebagai penerima manfaat utama dr kompetensi core yang ditingkatkan tersebut.

Apakah pendekatan ini Salah ?? 
Jelas Tidak… Tapi perusahaan yang fokus pada pengembangan CC akan kedodoran menghadapi pasar yang sangat volatile saat ini

Saat ini dari 2000 perusahaan terbesar dunia hanya sekitar 1,5% yang konglomerasi. Gerakan meninggalkan konglomerasi di USA terjadi sejak tahun 70 an.

Data ya g saya ada, perusahaan cost of capital perusahaan konglomerasi cenderung jauh lebih tinggi daripada yang menekuni satu core competence

Di Indonesia, cost of capital Alfamart hanya sekitar 2%. Sedangkan Astra yang konglonerasi sekitar 7% pertahun.

Perusahaan juga harus membangun kesadaran eksternal tentang “Bagaimana Pelanggan dapat mendorong penciptaan nilai bagi Perusahaan” …. Atau ‘consumer – in ” approach

Pendekatan pengembangan CC dikenal dengan ” competence out” approach ….. Karena fokusnya adalah menjalankan bisnis yang jadi kompetensinya …bukan dari apa yg pasar butuhkan

Artinya, si spesialis lebih kenceng berekspansi karena modalnya jauh lebih murah. Investsi ROI 2 yang layak menurut alfamart jadi tak layak menurut Astra

Dan karena cost of capitalnya mahal, perusahaan konglomerasi cenderung bukan prinsipal. Karena untuk jadi prinsipal butuh investasi jangka panjang yang menuntut cost of capital rendah.

Jadilah konglomerasi seperti Astra kerjanya adalah menjualkan produk dari perusahaan lain yg prinsipal

Ada juga framework “Ambidexterity Strategy”…. untuk mengakomodasi keduanya : exploitation existing core competence sekaligus exploration new capabilities sesuai dengan arah pasar.

Dimana kompetensimu?atau kamu fokus ketidakfokusan??

Summary dari Diskusi Sarapan Pagi : Diana, Iman dkk

Dikirim oleh Agung Prasetyo Utomo pada Kamis, 28 Februari 2019
Share this: