Bruaakkkkk….. bunyi benturan benda keras terasa di belakang mobil yang ditumpangi Panglima JUARA bersama Patih dan Senopati di kemacetan jalan Kafi Depok saat menuju ke ayam GEPREK JUARA – LIMO – DEPOK. Terasa mobil yang sedang dalam kemacetan lalu lintas terdorong ke depan dengan keras.Kagetlah kami bertiga, karena tabrak belakang dari pengemudi yang ada di belakang kami.

Kemudian turunlah saya dari mobil dan menegur pengemudi belakang yang menabrak mobil kami. “Apakah Bapak baik baik saja? Atau Ngantuk?” ujar Panglima JUARA… dibalas dengan wajah kaget seperti terbangun dari tidur. “Iya Pak, saya ngantuk”….. Kemudian kami berdua minggir di tepi jalan, tetapi karena mengakibatkan kemacetan akhirnya kami lanjutkan perjalanan menuju AGJ Limo, Panglima JUARA satu mobil dengan penabrak dan senopati bersama sama Patih di mobil dinas JUARA.

Di tengah perjalanan kami ngobrol hal lain tidak ngobrolin kejadian kecelakaan tadi.Karena saya melihat beliau merasa bersalah sekali. Kami kenalan saling bertukar nama dan kegiatan sehari hari. Beliau memperkenalkan dirinya dengan nama Pak Syafii, seorang penjaga masjid disebuah perkantoran terkenal di bilangan Kebon Sirih. Dulunya dikenal dengan Masjid Bimantara karena terletak di gedung Bimantara, tetapi sekarang lebih dikenal sebagai Gedung MNC.

Tak lebih 15 menit, sampailah kami ke AGJ Limo Depok, dan ngobrolin tentang tanggung jawab atas kecelakaan tadi. “Saya salah Pak, tadi saya ngantuk gak terasa tertidur karena pakai mobil auto mobil terus meluncur ke depan dan nabrak mobil Bapak” ujar Pak Syafii ke saya. “Saya siap bertanggung jawab menggantikan kerugian yang dialami oleh Bapak”…diungkapkan beliau sebagai rasa tanggung jawabnya.

“Terimakasih Bapak sudah merasa bersalah dan siap bertanggung jawab untuk benerin mobil saya. Tentu saja saya akan menghukum Bapak karena itu, dan saya rasa sudah sepantasnya bapak menerimakanya karena kelalaian Bapak” ujar saya.

Dari raut muka Pak Syafii saya melihat ada beban berat dan rasa bersalah yang dalam atas kesalahan dia tadi jam 10.30. Selanjutnya sebagai hukuman atas kesalahan menabrak saya siang ini saya menghukum Bapak dengan 3 hukuman :
1. Bapak harus cobain makan ayam GEPREK JUARA di Limo ini dan memberikan review jujurnya ya.


2. Bapak harus mau menerima voucher ayam GEPREK JUARA yang saya berikan ini.


3. Bapak harus menggunalan Voucher ini untuk makan di ayam GEPREK JUARA – Kukusan – Depok bersama dengan anak istri tercinta.

Langsung berubah raut muka dari Pak Syafii, dari yang sebelumnya murung menjadi sumringah dan bersuka cita. “Masya Allah, ini beneran Bapak menghukum saya dengan 3 hal diatas?” Ujarnya tidak percaya.
“Saya tidak percaya di jaman sekarang masih ada orang sebaik Bapak, yang memberikan kemudahan buat orang lain disaat susah. Saya sudah bayangin akan ngeluarin biaya berapa banyak untuk benerin mobil Bapak yang lumayan mahal itu”.

“Iya Pak, saya sudah memaafkan Bapak sejak saya turun dari mobil dan menanyakan kondisi Bapak, apakah Bapak Ngantuk?” Jawab saya memastikan keraguan dia.

“Masya Allah Pak, makanya saya tadi agak heran, orang ditabrak, turun dari mobil bukannya melihat mobilnya yang ditabrak.Tapi nanya ke saya, apakah saya ngantuk, padahal biasanya orang akan turun dan keluar maki makian, terimakasih banyak ya Pak” sambil menyalamin saya.

Tepat jam 12.15 saya persilahkan beliau untuk melanjutkan perjalanan, tetapi beliau tidak mau, dan malah. “Saya mau ngobrol dengan Bapak pemilik ayam GEPREK JUARA, bagaimana Bapak bisa berjiwa seperti itu?”.

Akhirnya setelah berjamah sholat dhuhur, ngobrol panjang lebarlah kami dengan beliau sampai jam 15.00. Obrolan panjang tentang masa lalu masing masing, masa sekarang dan juga masa depan.
Termasuk bagaimana dulu jaman di pesantren beliau sempat makan dengan sambel korek yang di bakar dengan pecahan genteng agar keluar bau yang sedep.

Karena setahu saya beliau Penjaga Masjid, sayapun menceritakan kalau saya suka dengerin ceramah dari salah satu ustadz yang ada di TV yang sering mengamalkan ilmu sedekah. Sampai suatu saat saya pernah bertekad untuk bertemu dengan beliau, tetapi sampai sekarang belum ada kesempatan untuk bertemu dengan beliau.

Pak Syafii tersenyum lebar ke saya, dan bilang “Saya kenal ustadz yang Bapak maksud. Saya akan coba bantu mewujudkan mimpi Bapak untuk bertemu dengan beliau tanggal 30 April 2018, karena saya akan bersama beliau ke Probolinggo saya usahakan kita akan satu flight agar bisa ngobrol panjang. Saya merasakan semangat ayam GEPREK JUARA : Jamaah, Pemberdayaan, Syirkah/Bagi Hasil sama dengan yang beliau ajarkan juga untuk memajukan umat” ujar Pak Syafii..

Dari situ saya tahu kalau Pak Syafii adalah salah satu Ustads yang istimewa dan selama ini sangat loyal dan berdedikasi ke pekerjaannga sebagai PENJAGA MASJID, itu istilah beliau ke saya. Tentu saja tawaran dari Ustads Syafii tidak saya tolak, saya cuma bilang. Sampaikan ke beliau kalau saya boleh ajak ibunda saya agar ibunda saya seneng ketemu idolanya yang selama ini hanya ketemu di TV.

Seringkali kita berputus asa tatkala mendapatkan kesulitan atau cobaan. Padahal Allah telah memberi janji bahwa di balik kesulitan, pasti ada jalan keluar yang begitu dekat.

“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.”

“Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.”

Diulangnya 2X.…yakinlah akan itu … Mentality JUARA salah satunya, merubah sesuatu yang NEGATIF menjadi POSITIF dan yakin di setiap kesulitan selalu ada 2 kemudahan.

Salam JUARA
Panglima JUARA