Share this:

Sejak jaman penjajahan Belanda pulau Belitung diexploitasi secara hasil sumber daya alamnya timah. Dikeduk keduk dan dibawalah ke negeri mereka sebagai salah satu dagangan VOC. Habis diperas habis tanahnya untuk memperkaya penjajah Belanda. Sisa sisa existensi penjajahan Belanda ada di pulau lengkuas, sebuah mercu suar yang masih aktif sampai sekarang.

Sampai jaman kemerdekaan dan order baru juga masih dilakukan penambangan timah baik dilakukan secara berijin maupun secara illegal. Luar biasa dampak dampaknya terhadap lingkungan alam Belitung.

Saya mengenal Belitung pada saat pelajaran Geografi di saat saya di bangku sekolah dasar tahun 1990 an sebagai penghasil timah, termasuk pulau tetangganya yang lebih besar yaitu Pulau Bangka. Dan baru tahun ini diusia saya kepala 4 saya baru kesampaian menginjakkan kaki di Pulau Belitung. Pengalaman yang luar biasa, kesempatan ini saya gunakan untuk explore merasakan keindahan alam, sejuknya udaranya, kuliner istimewanya termasuk keramahan masyarakatnya.

Tentunya keindahan Belitung dikenal lewat pantainya yang berpasir putih lembut, pulau pulau kecilnya yang luar biasa banyaknya sampai wisatanya di sebut hoping island atau lompat lompat pulau. Karena kita naik perahu mengunjungi 11 pulau yang ada di sekitar Tanjung Kelayang sekitar hampir 4 jam dengan sewa sekitaran 500 ribu sd 1 juta. Satu hari biasanya abang pemilik perahu bisa melayani 1 sd 2 sewaan wisatawan.. tetapi itu dulu tahun 2018. Tahun 2019 mereka mengeluh..seminggu mendapatkan orderan 1 kali aja sudah bersyukur.

Sejak jaman SBY pulau ini memang menggencarkan program program wisata domestik bahari, dan itu menumbuhkan sektor ekonomi melalui industri pariwisata kreatif. Restoran, guide tour travel, oleh oleh khas belitung seperti Ketam Isi Adena tumbuh dengan pesat ikut pula menikmati kue pariwisata yang sedang merekah di Belitung. Bus bus wisatawan, mobil carteran hilir mudik melayani para wisatawan yang merapat ke Belitung yang cuma 50 menit penerbangan dari Jakarta.

Tetapi itu dulu…sekarang sejak masuk tahun 2019 perekonomian yang ditopang dari industri wisata perlahan lahan mulai meredup… hotel hotel banyak yang okupansinya turun, restoran mulai banyak yang sepi pelanggan, toko oleh oleh juga mulai menciut karena terkena imbas penurunan jumlah wisatawan yang cukup drastis.

Ya kebijakan kenaikan tiket pesawat jakarta belitung yang hampir 2x lipat harga 2018 dan sekaligus kebijakan bagasi ber bayar telah langsung mendatang efek kejut ekonomi ke pelaku bisnis di Belitung yang bersinggungan dengan industri pariwisata. Wisatawan domestik menurun drastis…Belitung..nasibmu kini…

Dahulu kau diperas nafsu keserakahan penjajah Belanda untuk mengisi pundi pundi kekayaan mereka. Sekarang keindahanmu belum bisa mendatangkan kemakmuran bagi segenap wargamu.

Beberapa orang yang saya temui di Pantai Tanjung Kelayang, Pantai Laskar Pelangi, Kota Tanjung Pandan hampir semuanya mengeluhkan kondisi sekarang ini. Mereka berharap tiket pesawat bisa kembali ke tahun 2018 agar kunjungan wisatawan domestik bisa kembali naik. Agar kesibukan mereka melayani para tamu bisa kembali seperti tahun tahun 2017 2018, kesibukan yang membahagiakan wisatawan.

Sebagai sesama pengusaha kuliner, saya yang berkecimpung di ayam GEPREK JUARA, berharap dan ikut mendoakan agar para sahabatku pejuang ekonomi, pejuang kuliner Indonesia di Belitung bisa segera pulih melayani lonjakan wisatawan wisatawan baik domestik maupun mancanegara. O iya, catatan dari saya….agak susah di pantai mencari toilet umum, semoga pemda belitung bisa konsent untuk lebih menyediakan toilet umum buat wisawatan. Keindahan alammu luar biasa, keindahan pantai putihnya luar biasa. Semoga nasibmu juga akan luar biasa.

Salam dariku Panglima JUARA, Manusia 5 Kuadran.

Share this: