Share this:

Berawal dari semangat dan cita-cita untuk bisa pindah kuadran dari kuadran karyawan (Kuadran 1) ke kuadran bisnis owner (kuadran 3), setelah berada di kuadran karyawan sebuah perusahaan otomotiv multinasional hampir selama 16 tahun sejak 2001.

Keinginan menjadi entrepreneur bisnis owner(Kuadran 3) sangat kuat sekali karena ingin mendapatkan passive income dan kebebasan waktu untuk keliling Indonesia. Tentunya juga tidak ingin mengalami kejadian bangkrut atau tidak berhasil ketika memulai usaha sebagai orang yang pindah kuadran dari 1 ke 3.

Entah mengapa saya memilih bidang kuliner sebagai salah satu tujuan pindah kuadran 3, padahal saya lulusan Tehnik Mesin ITS Surabaya dan selama puluhan tahun berkarya di bidang otomotiv.

Sepertinya tidak nyambung sama sekali, seorang insinyur tehnik mesin menjadi seorang pemilik bisnis rumah makan.

Banyak yang bilang kalau jadi pengusaha harus menghabiskan jatah bangkrutnya untuk berhasil. Tetapi saya memiliki keinginan dan tekad jangan sampai bangkrut di usaha kuliner, harus akurat , harus berhasil tidak boleh lagi bangkrut.

Karena ketika saya sebagai karyawan dan nyambi-nyambi bisnis dan investasi juga udah kenyang yang namanya bangkrut dan ketipu oleh partner bisnis saya. “Dulu saya bilang: ‘saya ditipu’. Sakarang saya bilang: ‘saat itu saya belum tahu ilmunya’.” Bisnis itu sekolah untuk terus tumbuh. Terus belajar.

Nah sekolah itu ya mahal…anggap itu biaya sekolahnya.Mungkin ini cara saya menghibur diri saya karena kegagalan dalam berbisnis saat itu.

Banyak hal detail dalam bisnis yg tidak dipelajari akan berakibat pada kerugian, karena bisnis memerlukan kedetailan untuk kita bisa mengetahui secara pasti apakah bisnis kita sehat, yaitu Growth, Profit dan Sustain.

Kerugian sebagai pebisnis pemula biasanya karena kekurang ilmuannya yang akhirnya berakibat rugi karena bisnis atau rugi karena ditipu. Entah itu ditipu, diibohongi, atau rugi karena bisnis dan sebagainya sebagai 1001 alasan ujung ujungnya sama aja, sama sama merugi secara finansial.

Meskipun dalam pengertian normatif “saya ditipu atau dibohongi” saya nggak bilang begitu ke diri saya maupun ke orang lain. Proses terjadinya “saya ditipu atau dibohongi” pada saat itu karena saya belum belajar. Atau belum tahu…

Semua pengalaman pahit itu menjadi sekolah berharga untuk semakin mendewasakan diri ketika memulai bisnis. Secara psikologis, diksi “ditipu” atau “dibohongi” itu jika terus disimpan dalam memori, akan menghambat langkah selanjutnya …

Sebab bisnis itu pilihannya cuma dua: untung atau rugi.

Bagaimana agar saya sekolahnya cepat? Tentunya harus ada strategy dan strategy paling jitu buat saya adalah Berkomunitas dan Bermentor. Ketika saya bekerja di sebuah perusahaan multinasional company, otomatis saya berkomunitas dengan orang orang yang semangatnya sama, yaitu sebagai karyawan. Pertama kali saya masuk sebagai karyawan baru tentunya saya juga mendapatkan seorang atasan yang akan memberikan tugas sekaligus membimbing sampai tugas itu selesai dan berhasil.

Di saat itulah saya berarti mendapatkan mentor secara langsung yaitu atasan saya.
Dengan analogi yang sama, bahwa saya harus memiliki komunitas dan bermentor disaat saya resign dan memulai usaha kuliner maka saya harus focus memilih.

Dengan siapa saya berkomunitas dan dengan siapa saya bermentor. Akhirnya setahun sebelum resign di 2015 saya memilih bergabung dengan komunitas berbagai pengusaha untuk terus belajar sebagai persiapan menjalani kuadran baru.

Resign dari perusahaan multinasional otomotif terbesar di Indonesia dengan gaji dan fasilitas yang aduhai merupakan pilihan yang sulit dan penuh kecamuk.

Tetapi saya tetap melangkah mengambil keputusan resign untuk masa depan yang lebih baik.
Setelah saya berkomunitas selama hampir 1 tahun barulah saya berani memutuskan diri untuk resign di desember 2016 dan kemudian 6 bulan kedepan tepat 20 Mei 2017 saya mendirikan ayam GEPREK JUARA.

Restoran berjejaring nasional yang bervisi One City One JUARA (Jaringan Usaha Amanah Ridho Allah), berstrategykan Kalaborasi, Pemberdayaan, dan Nasionalisme.

Tak terasa setelah 2 tahun berjalan saya sudah memiliki 70 outlets di seluruh dunia mulai dari Jabodetabek, Sulawesi, Kalimantan, Bali, Kupang, Sumatera dan Batam yang melayani masyarakat Indonesia makan minum sepuasnya Rp 15.000 dengan olahan daging ayam .

Salah satu kunci suksesnya adalah saya berada di komunitas bisnis yang tepat , dan disitu juga saya banyak memiliki mentor bisnis yang sudah kenyang pengalaman berbisnis dan selalu berbagi dengan riang gembira secara sukarela.

Awalnya saya bergabung di bergabung di berbagai komunitas bisnis tentu saja niatnya adalah berkomunitas dengan jaringan pengusaha pengusaha, mulai level penuh tantangan sampai level nasional untuk merubah mindset karyawan ke mindset bisnis owner, apalagi banyak owner bisnis yang bergabung di berbagai komunitas yang ada, berada hampir di seluruh kota yang ada di Indonesia.

Dalam setiap kegiatan komunitas bisnis saya usahakan datang di sela sela waktu saya bekerja untuk membangun network sekaligus mendapatkan ilmu ilmu bisnis terutama tentang dunia kuliner sebagai persiapan saya resign. Di berbagai komunits mayoritas banyak master master kuliner yang siap berbagi kepada saya, sekaligus saya membangun jaringan bisnis JUARA dengan produk pertamanya adalah ayam GEPREK JUARA.

Dengan jaringan komunitas yang sudah menasional tentunya menjadikan manfaat tersendiri buat saya pribadi yang sejak kecil bercita-cita keliling Indonesia dari Sabang sampai Merauke.

Salah satu niat saya resign adalah saya bisa menginjakkan kaki di Sabang dan Merauke dalam waktu maksimal 6 bulan. Akhirnya bersamaan dengan kegiatan launching salah satu komunitas bisnis di bulan September 2018, saya sempatkan hadir untuk berbagi ilmu tentang Kolaborasi, Pemberdayaan dan Nasionalisme dalam membangun jaringan bisnis restoran ayam GEPREK JUARA. 
Kesempatan ini sekaligus saya manfaatkan untuk bisa menginjakkan kaki di perbatasan Indonesia dengan Papua New Guinea yaitu Merauke. Berkeliling Indonesia, bertemu dengan sahabat sahabat komunitas bisnis yang awalnya tidak saling mengenal kemudian malah lebih akrab dan layaknya saudara sendiri merupakan kenikmatan yang tiada tara.

Termasuk ketika di bulan Maret 2019 saya mengunjungi kota Sabang yang ada di ujung paling barat utara Indonesia, dalam perjalanan darat saya dari Jakarta sampai Sabang kurang lebih 6000an km, saya banyak mampir ke temen temen komunitas yang hampir ada di setiap kota yang saya singgahi.

Sebuah jaringan komunitas yang memang sudah menasional yang berisikan orang orang yang bersemangat membangun peradaban bangsa menuju Indonesia yang lebih baik.
Alhamdullilah dengan berkomunitas bisnis yang tepat, saya berada di lingkungan yang positif dan membangun, memiliki jaringan temen temen pebisnis di seluruh Indonesia.

Dalam perjalanan ayam GEPREK JUARA sebagai sebuah restoran kerakyatan berjejaring nasional akhirnya banyak bekerjasama dengan temen temen komunitas bisnis di seluruh Indonesia, baik sebagai vendor maupun sebagai partner. Dan ini tentu saja semakin mempercepat scale up dari bisnis kuliner berjejaring yang saya rintis dari tahun 2017.

Didalam membangun bisnis saya meyakini ada 5 hal yang akan membuat kita sukses yaitu Karakter, Fokus, Merek, Network, Detail. Nah dengan bergabung di komunitas bisnis yang tepat maka kita akan memperluas jaringan atau network kita bahkan tidak hanya di tingkat nasional bahkan juga di luar negeri seperti di Korea, Australia.

Buat kalian yang mau resign atau mau pindah kuadran, mau mulai usaha, berkomunitaslah dan milikilah mentor, tentunya kalian bisa menemukan itu di komunitas bisnis yang tepat. Hidup tak selamanya indah, hidup adalah rangkaian pilihan yang kita tidak bisa pilih resikonya.

Tetapi dengan berkomunitas yang tepat, saya semakin menyadari bahwa Indonesia bukan hanya Jakarta dan Nganjuk, tanah kelahiran saya. Bhinneka Tunggal Ika.

Jangan Menyerah!!! AGJ hanya menjual 60 potong ayam di hari pertama jualan. DI tahun kedua sudah berdiri 70 outlet diseluruh Indonesia. Tetaplah Berjuang!!!

Share this: